3 Komentar

Di Perbatasan, Ya Begini Lah (Cerita Anak Natuna di Seberang)


abandoned2Maulz bukan tipe orang yang suka mengeluh tentang betapa banyak hal-hal malang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga perbatasan. Mulai dari sulitnya akses komunikasi, parahnya jaringan listrik, hingga sarana transportasi antar pulau yang sangat minim. Namun, tragedi kecelakaan Hercules di Medan beberapa waktu lalu (30/6/15) membuat Maulz juga ingin bicara.

Pada salah satu artikel (tentang kejadian tersebut) yang di posting di status facebook Koran Facebook dan status BBC Indonesia, ada beberapa komentar yang menurut Maulz cuma disuarakan sama orang-orang yang tidak tahu apa apa tentang alasan mengapa banyak warga sipil di pesawat TNI itu. Banyak dari mereka beranggapan bahwa kejadian tersebut merupakan akibat dari pelanggaran aturan sehingga “pantas jatuh”, warga sipil yang “bodoh” (memilih pesawat tanpa asuransi), dan beberapa diantara mereka juga menghujat TNI AU karena mengkomersilkan pesawat tersebut.

Sedikit cerita tentang pesawat tersebut. Hercules C-130 namanya, atau di kalangan warga Natuna kami menyebutnya dengan nama pesawat PAUM. Warga Natuna memang sudah sejak lama sering ikut pesawat tersebut menuju rute-rute yang dilaui terutama untuk tujuan Pontianak, Tanjung Pinang dan Pekanbaru. Alasan persisnya Maulz kurang tahu mengapa boleh naik pesawat itu, namun bagi Maulz hal tersebut sangat membantu perjalanan warga Natuna ke luar pulau mengingat mahal dan minimnya transportasi dari dan ke Natuna. Masalah tarif yang dikenakan pada warga sipil yang mencapai Rp. 1 jt per orang masih simpang siur dan aneh bagi Maulz (kata kawan-kawan di Pekanbaru, emang bayar, namun pihak TN AU pusat terus membantahnya), pasalnya Maulz sendiri pernah ikut naik pesawat itu tahun 2007 silam dan gratis, saudara juga pernah ke pontianak dan hanya membayar Rp. 100rb walaupun seharusnya TNI tidak berhak menarik uang tersebut (dan warga sipil juga tidak seharusnya naik pesawat itu).

Bicara mengenai kejadian tersebut, tidak lepas dari bicara mengenai transportasi (di sini Maulz tentunya membatasi bahasan cukup dari segi mahasiswa Natuna saja, masalah warga Medan yang waktu itu juga ikutan Maulz tidak tahu). Begitu banyak kawan dan sanak saudara yang berpulang akibat kejadian itu, Selvi, Ervina, Bobi, dan Eka adalah beberapa diantara teman seperjuangan Maulz yang meninggal.

Sulitnya transportasi yang menjadi alasan kawan-kawan Maulz ikut dalam penerbangan pesawat tersebut. Bagaimana tidak, mahasiswa Natuna rata-rata mengandalkan transportasi kapal Pelni untuk pulang karena lebih murah, sementara jalur kapal tersebut sudah diberhentikan ke Natuna oleh pemerintah sejak tanggal 27 Juni dengan alasan untuk antisipasi lonjakan pemudik dari dan ke Jawa dan diaktifkan lagi jalurnya beberapa minggu setelah lebaran. Di situ sudah sangat jelas, bahwa fasilitas bagi warga perbatasan diabaikan dan dicabut begitu saja (dan seenaknya saja). Bagi kami mahasiswa Natuna, hal ini sangat tidak adil, tapi kami bisa apa? bahkan sempat ditulis di grup facebook Berita Natuna bahwa pemda Natuna telah mengirimkan pernytaan langsung ke Pak Jokowi masalah transportasi ini. Berharap berita baik, namun masih saja jalur kapal Pelni ke Natuna diberhentikan.

Jalur lain yang dapat ditempuh adalah menggunakan pesawat komersil, namun harga tiket ke Natuna merupakan harga tiket pesawat tertinggi di Indonesia. Belum lagi beberapa daerah, kami harus lewat Batam dahulu untuk sampai ke Natuna, jadinya dua kali naik pesawat dan tentunya dua kali bayar tiket. Nah, dengan begini pesawat jadi alternatif yang paliiiiiiiiiiiiiiing akhir.

Paum (Hercules) menjadi alternatif yang sungguh melegakan. Sedikit cerita tentang salah satu kawan dari kawan Maulz yang pulang menggunakan Paum beberapa hari sebelum pesawat itu jatuh. Sempat hilang harapan karena mendengar kabar kapal Pelni ke Natuna sudah berhenti, namun mendengar kabar Paum akan ke Natuna dari kawan Natuna lainnya, lega sudah dan kembali lagi harapan pulang tersebut dan akhirnya lenyap bersama jatuhnya pesawat.

Sudah tradisi setiap tahun, kami Mahasiswa mengeluh pada pemerintah mengenai transportasi ini. Tanggapan dan apa yang akan terjadi seolah sudah bisa kami tebak, pemerintah tidak peduli. Puncak keluhan itu terjadi setelah mendengar berita tentang kawan-kawan kami yang meninggal bersama Paum.

Beberapa yang bisa Maulz kutip (beberapa bahasa sudah di Indonesiakan),

“Pemerintahan jokowi adlh pemerintahan yg palling teruk bahkan dia tidak tau natuna itu ad dimna dan mugkin dia tidak mganggap kita sbgai bagian dari ngra indonesia. Kyak’a natuna tak dihargai sma skli meskipun natuna mmpunyai migas yg mmbntu buat pmsukan negara indonesia. Padahal Natuna menjadi salah satu wilayah yang menopang sebagian kebutuhan energi Indonesia,”.

“sekedar menanggapi..saya gk menyalahkan apapun ya disini mengapa pada naik PAUM ya karena moda transportasi di natuna pada gk ada ataupun sangat mahal sebernarnya paum itu memberikan bantuan secara tidak langsung.. tiap pulang kampung ke natuna saya pake PAUM trs bang cuma udh 2 tahun ini gk plng ke sana,”.

“mudah mudahan saja petinggi Ranai sadar dengan kejadian ini (kecelakaan PSAWAT HERCULES C30) ini lah pelajaran dr allah. kami kuliah ingin pulang serba tidak ada transportasi .. KAPAL /PESAWAT tidak jelas .. itukah nama NATUNA MAS?
sibuk memanjakan diri masing masing, kesal kami mahasiswa,”.

“Jika natuna masih tidak bisa menyediakan penerbangan yg layak bagi masyarakatnya, maka hal ini sudah bisa dipastikan akan terulang kembali, mana pemerintah dan para pekerja di bandara yg bnyak omong itu? katanya diperkirakan penerbangan baru untuk kepontianak bulan juli sudah dipastikan ada? cuma ngomong doang ya tai? ini akibat dari tidak bisa menepati janji kalian ke rakyat, sediakan penerbagan layaknya kota besar lainnya, jgn cuma mentingin uang pajak anjing kalian itu, kalo mau tangkap tangkap aku ini di batam, aku nggk takut, aku kasih alamat lengkapnya kalo ada yg nanya, kecelakaan pesawat hercules ini sbg tanda, dan ini bukan salah TNI memberikan tumpangan murah, mereka justru berjasa besar,”

“Dengan kejadian jatuhnya pesawat HERCULES C-130 ini memang merupakan kesalahan semua pihak dan semua prosedur
Memang PAUM tidak dibenarkan membawa warga sipil , TAPI ini semua Nyata kesalahan pemda kita yang cenderung tidak perduli dengan yang namanya MUDIK, saya jelaskan mudik ini bukan semata pulang kampong , tapi mudik ini untuk berkumpul dengan keluarga, saya sebagai mahasiswa dari natuna yang sekarang berada di kampung orang merasa sedih dengam pemerintahan kita, Semoga bupati selanjutnya lebih bisa mengutamakan UANG APBD untuk transportasi mudik tahun depan bukannya untuk diberi dengan orang2 yang suka NGEPET. Satu kalimat untuk tahun ini
RIP kawanku . RIP NATUNA . RIP PEMDA NATUNA,”

“Memang yang namanya musidbah tidak dapat kita duga..?? Semoga yang ditinggal kan diberikan ketabahan. Amin
beginilah nasib kawan-kawan di perantauan. pengalaman saya, naik pesawat itu alternatif kedua. Karena biasanya, pilihan pertama adalah naik KAPAL. Selain lebih murah di harga tiket dan bisa jumpa kawan yang kuliah didaerah lain. Naik kapal tu pun bisa dikatakan tempat silahturahmi. Karana dapat jumpa kawan2 yg kuliah dari jogja, malang, bandung, jkt, pku, tg.pinang dengan tujuan natuna. Tapi begitulah kalau bulan ramadhan jalur kapal kita, tidak ada rute.  Sedangkan Pembangunan terus dibuat di pusat sana, sedangkan kita, minta satu kapal saja susah,”

—– Salam dari Malang ——-

3 comments on “Di Perbatasan, Ya Begini Lah (Cerita Anak Natuna di Seberang)

  1. dengan senang hati om.. makasih banyak loh,

  2. Merunding ane bacanya gan,… Izin share gan…

Tinggalin jejak dengan ngisi komentar ya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: