2 Komentar

Penyakit Lodoh (Busuk Umbi Kentang) oleh Phytophthora infestans


Salah satu prioritas pengembangan agribisnis kentang di Indonesia adalah di Jawa Tengah (Wonosobo), namun produksinya masih rendah oleh serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) khususnya kapang patogen Phytophthora infestans penyebab busuk daun dan umbi tanaman kentang (Rukmana, 1997).

Penyakit lodoh ini disebabkan oleh serangan jamur patogen ganas Phytophthora infestans yang dapat menurunkan produksi kentang hingga 90% dari total produksi kentang dalam waktu yang amat singkat. Sampai saat ini kapang patogen penyebab penyakit busuk batang dan daun tanaman kentang tersebut masih merupakan masalah krusial dan belum ada fungisida yang benar-benar efektif terhadap penyakit tersebut (Cholil, 1991).

Menurut Djafaruddin, 2000, penyakit busuk daun/ batang (late blight) tanaman kentang sangat berpotensi terjadi pada daerah dingin dan lembab karena kapang patogen yang menyebabkannya mudah tumbuh dan berkembang baik pada kondisi dingin.

Pada umumnya, pathogen ini berkembangbiak secara aseksual dengan zoospora, tetapi dapat juga berkembangbiak secara seksual dengan oospora. Jamur ini bersifat heterotalik, artinya perkembangbiakan secara seksual atau pembentukan oospora hanya terjadi apabila terjadi mating (perkawinan silang) antara dua isolat P. infestans yang mempunyai mating type (tipe perkawinan) berbeda (Purwantisari, 2002).

Kapang patogen Phytophthora infestans bukan merupakan kapang asli tanah, namun biasa menyerang organ organ tanaman kentang di dalam tanah dan di atas tanah (daun, batang, cabang, akar dan umbi).

Pengendalian penyakit dengan fungisida dan bakterisida sintetis oleh para petani kentang selama ini tidak efektif dalam mengendalikan penyakit yang disebabkan oleh kapang patogen. Untuk menghindari kondisi yang lebih parah, tindakan yang perlu dilakukan adalah mengganti fungisida yang biasa dipakai dengan fungisida yang berbeda bahan aktif dan cara kerjanya (mode of action).

 Penyebab Penyakit

Penyebaran spora/ patogen kapang melalui angin, air atau serangga. Jika spora sampai ke daun basah, ia akan berkecambah dengan mengeluarkan zoospora atau langsung membentuk tabung kecambah, kemudian masuk ke bagian tanaman, dan akhirnya terjadi infeksi. Spora yang jatuh ke tanah akan menginfeksi umbi, dan pembusukannya bisa terjadi di dalam tanah atau di tempat penyimpanan (Alexopoulos, et al., 1996 ). Selain itu penyebaran spora patogen Phytophthora infestans dipicu oleh keadaan lingkungan udara yang relatif lembab di atas 80%.

 Gejala Penyakit

Gejala pada daun berupa hawar (blight) atau bercak berwarna abu-abu yang berukuran besar dengan bagian tengahnya agak gelap dan agak basah. Gejala serangan pada leher akar dan akar berupa busuk berwarna hitam. Serangan pada umbi berupa busuk basah umbi yang berwarna abu-abu atau hitam. Apabila umbi diinkubasikan dalam temperatur 15 – 20oC, akan muncul konidia yang dibentuk dalam jumlah banyak, berupa tepung berwarna keabuan (Cholil, 1991).

 Cara Identifikasi

Pengambilan sampel tanaman sakit dengan meletakkan irisan daun / umbi kentang yang sakit pada medium PDA steril yang telah ditambah kloramfenikol dalam cawan petri steril, kemudian diinkubasi pada suhu 25oC selama 3-5 hari. Koloni-koloni yang tumbuh diidentifikasi untuk memastikan adanya Phytophthora infestans.

 Identifikasi jamur Phytophthora infestans dilakukan secara makroskopis dan mikroskopis. Hasil isolasi jamur yang berupa biakan murni, dideterminasi berdasarkan morfologi mikroskopisnya dengan menggunakan kunci determinasi jamur hingga pada marga dan jenisnya (Barnett dan Hunter, 1972; Malloch, 1997); Barnes, Ervin H., 1997).

Selain itu isolasi juga dilakukan di tanah sekitar tanaman kentang yang menunjukkan gejala penyakit dengan menggunakan metode umpan dengan menggunakan buah apel varietas Manalagi. Jamur yang diperoleh kemudian dibiakkan dalam media PDA miring dan disimpan dalam paraffin cair steril untuk uji berikutnya (Tsao, 1983). Patogen ini dicirikan dengan morfologi sporangium yang berbentuk bulat dengan papila pada ujungnya serta hifa yang tidak bersekat. Pada medium PDA koloni jamur berwarna putih dengan miselium yang lembut menyerupai kapas. Pustaka acuan pada umumnya menyebutkan bahwa penyebab penyakit busuk daun dan umbi tanaman kentang disebabkan oleh jamur patogen Phytopthora infestans (Semangun, 1989). Media paling baik untuk pertumbuhan isolat P. infestans adalah media TEA. Pertumbuhan P. infestans dengan Luas dan diameter paling cepat terdapat pada isolat umbi kentang di media TEA (I2M3) dan paling lambat pada isolat umbi kentang di media PDA.

 Cara Pencegahan atau Pengobatan

Salah satu jenis biopestisida adalah biofungisida berbahan aktif mikroorganisma sel jamur antagonis Trichoderma spp, yaitu fungisida penghambat pertumbuhan kapang patogen penyebab penyakit tanaman budidaya yang diharapkan efektif mengendalikan serangan kapang patogen Phytophthora infestans tanaman kentang serta aman bagi tanaman budidaya sebagai tanaman bukan sasaran.

Jamur-jamur antagonis tanah isolat lokal seperti Trichoderma spp dilaporkan mempunyai aktivitas antagonisme yang kuat terhadap jamur patogen dengan mekanisme hiperparasitismenya dan antibiosisnya sehingga efektif menghambat pertumbuhan kapang patogen tanaman dengan mendegradasi dinding selnya. Dinding sel kapang patogen menjadi rusak kemudian mati melalui aktivitas enzim kitinasenya. Beberapa enzim kitinolitiknya hanya toksik pada kapang patogen penyebab penyakit tanaman budidaya tetapi namun tidak pada mikroorganisma lain dalam tanah dan tumbuhan inang (Kloepper et al., 1989).

Menurut Salma dan Gunarto (1999), Trichoderma spp mempunyai kemampuan menghasilkan enzim selulase sehingga dapat merusak dinding sel kapang patogen pada kelompok jamur famili Pythiaceae seperti Phytophthora infestans.

Mekanisme penghambatan yang terjadi pada uji antagonisme ini adalah hiperparasit yang dapat diamati dengan pertumbuhan miselium Trichoderma spp. yang menutupi seluruh permukaan medium termasuk koloni Phytophthora infestans. Adanya kompetisi ruang dan makanan pada kedua jamur yang saling berinteraksi menyebabkan pertumbuhan salah satu jamur terdesak di sepanjang tepi koloninya, sehingga pertumbuhannya akan ke atas tidak menyamping. Penggunaan teknologi sonic bloom dengan suara Garengpung dengan sistem green house dapat memperlambat pertumbuhan Phytophthora infestans.

Klasifikasi

Menurut MycoBank (2013), klasifikasi Phytophthora infestans adalah kerajaan: Chromista, divisi: Oomycota, kelas: Oomycetes, ordo: Pythiales, family: Pythiaceae, genus: Phytophthora, dan spesies: Phytophthora infestans (Mont.) de Bary.

Data diolah oleh M. Toriq Maulana

2 comments on “Penyakit Lodoh (Busuk Umbi Kentang) oleh Phytophthora infestans

  1. Menarik sekali artikel pertaniannya….semga bermanfaat ya….salam dari kami

Tinggalin jejak dengan ngisi komentar ya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: