Tinggalkan komentar

Penyakit Busuk Daun pada Tanaman Kentang


Serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) hingga saat ini masih merupakan masalah utama yang membatasi produk terutama untuk daerah-daerah yang mempunyai iklim tropis. Sementara, penggunaan pestisida kimia dalam pengendalian OPT mempunyai resiko yang besar karena dapat menyebakan resistensi, resurgensi, pencemaran lingkungan, timbulnya residu pestisida dalam tanaman dan sebagainya. Dengan pengendalian secara hayati diharapkan dapat memberikan efek positif serta mengurangi efek samping dari penggunaan pestisida dalam pengendalian serangan organisme pengganggu tanaman. Perhatian pakar penyakit tumbuhan terhadap metode pengendalian hayati kembali ketika di Barkley pada tahun 1963 diadakan symposium internasional pengendalian hayati dengan tema “Ecology of Soilborne Plant Pathogen-Prelude to Biological Control”, buku pertama tentang pengendalian hayati terbit pada tahun 1974 oleh Baker dan Cook dengan judul “Biological Control of Plant Pathogens”. Sejumlah mikroba telah dilaporakan dalam berbagai penelitian efektif sebagai agen pangendalian hayati hama dan penyakit tumbuhan diantaranya adalah dari genus-genus Agrobacterium. Ampelomyces, Arthrobotys, Ascocoryne, Bacillis, Nematophthora, Penicillium, Pseudomonas, Sporidesminium, Trichoderma, dan Verticilium (Hasanuddin, 2003).

Trichoderma spp. merupakan jamur antagonis yang sangat penting untuk pengendalian hayati. Mekanisme pengendalian Trichoderma spp. yang bersifat spesifik target, mengoloni rhizosfer dengan cepat dan melindungi akar dari serangan jamur pathogen, mempercepat petumbuhan tanaman dan meningkatkan hasil produksi tanaman, menjadi keunggulan lain sebagai agen pengendali hayati. Selain itu Trichoderma spp sebagai jasad antagonis mudah dibiakkan secara massal dan mudah disimpan dalam waktu lama (Arwiyanto, 2003). Penyakit busuk umbi tanaman kentang oleh jamur pathogen Phytophthora infestans sejak lama menjadi masalah bagi para petani kentang dan penyakit ini merupakan penyakit yang paling serius di antara penyakit dan hama yang menyerang tanaman kentang di Indonesia (Katayama & Teramoto, 1997). Penyakit ini tergolong sangat penting karena kemampuannya yang tinggi merusak jaringan tanaman. Sampai saat ini pathogen penyebab penyakit busuk umbi kentang tersebut masih merupakan masalah krusial dan belum ada varietas kentang yang benar-benar tahan terhadap penyakit tersebut (Cholil, 1991).

PENYAKIT BUSUK DAUN PADA TANAMAN KENTANG

  1. Nama penyakit : Busuk daun dan umbi pada tanaman kentang.
  2. Penyebab :

Penyakit busuk daun pada tanaman kentang (Solanum Tuberosum) yang disebabkan oleh Jamur pathogen Phytophtora Infestans.

  1. Klasifikasi dan ciri jamur

Phytophthora infestans adalah Oomycetes yang menyebabkan penyakit hawar daun kentang dan busuk kentang. Karena serangannya dapat sangat hebat, ia menjadi penyebab kelaparan besar pada tahun 1845 dan beberapa tahun setelahnya di Irlandia dan pada tahun 1846 di Dataran Tinggi Skotlandia sehingga menyebabkan emigrasi besar-besaran ke Amerika Serikat. Hingga sekarang patogen ini masih sering dianggap sebagai anggota fungi/jamur, meskipun pada kenyataannya ia lebih merupakan protista dan lebih dekat kekerabatan taksonominya dengan alga coklat. Patogen ini dicirikan dengan morfologi sporangium yang berbentuk bulat dengan papilla pada ujungnya serta hifa yang tidak bersekat. Pada medium PDA koloni jamur berwarna putih dengan miselium yang lembut menyerupai kapas.

  1. Gejala :

Gejala yang ditimbulkan pada tanaman kentang jika terserang jamur pathogen phytophtora adalah sebagai berikut :

Gejala awal bercak pada bagian tepid an ujung daun, bercak melebar dan terbentuk daerah nekrotik yang berwarna coklat. Bercak dikelilingi oleh massa sporangium yang berwarna putih dengan belakang hijau kelabu. Serangan dapat menyebar ke batang, tangkai dan umbi. Perkembangan bercak penyakit pada daun paling cepat terjadi pada suhu 18 oC – 20 oC. Pada suhu udara 30 oC perkembangan bercak terhambat. Umumnya gejala baru tampak bila tanaman berumur lebih dari satu bulan, meskipun kadang-kadang sudah terlihat pada tanaman yang berumur 3 minggu.

Pembentukan penyakit busuk daun ini bervariasi sesuai kondisi lingkungan. Kelembaban relative, suhu, intensitas cahaya, dan pemeliharaan kentang itu sendiri akan mempengaruhi gejala yang timbul. Daun yang sakit terlihat berbecak – bercak pada ujung dan tepi daunnya dan dapat meluas ke bawah serta mematikan seluruh daun dalam waktu 1 sampai 4 hari; hal ini terjadi jika udara lembab. Bila udara kering jumlah daun yang terserang terbatas, bercak – bercak tetap kecil dan jadi kering dan tidak menular ke daun lainnya.

  1. Akibat :

Akibat yang ditimbulkan pada tanaman kentang yang disebabkan jamur pathogen Phytophtora adalah sebagai berikut :

  1. Dapat merusak jaringan tanaman
  2. Menurunkan produktifitas kentang
  3. Cara identifikasi :

Cara identifikasi penyakit ini adalah dengan menggunakan teknik Direct plating dengan meletakkan irisan daun / umbi kentang yang sakit pada medium PDA steril yang telah ditambah kloramfenikol dalam cawan petri steril, kemudian diinkubasi pada suhu 25oC selama 3-5 hari. Identifikasi jamur Phytophthora infestans dilakukan secara makroskopis dan mikroskopis.

Bisa juga dengan menggunakan gelas benda dibersihkan dengan alcohol kemudian dipanaskan sampai bebas lemak dan debu. Gelas benda ditetesi laktofenol pada bagian tengah. Biakan jamur diambil secara aseptis menggunakan jarum ose kemudian diletakkan di atas gelas benda yang telah ditetesi laktofenol, kemudian diberi sedikit alkohol. Preparat ditutup dengan kaca penutup dan dilewatkan diatas api lalu dilihat dibawah mikroskop untuk mendapatkan ciri mikroskopiknya. Identifikasi dilakukan dengan mencocokkan karakteristik jamur yang diperoleh dari hasil pengamatan dengan buku identifikasi Compendium of Soil Fungi karya Domsch, et al. (1980) dan Pengenalan Kapang Tropik Umum oleh Ganjar, dkk (1999).

  1. Cara penanganan             :

Cara penanganan penyakit ini adalah dengan mengunakan :

  1. Jamur Trichoderma yang bersifat antagonis, yang dapat menjadi hiperparasit pada beberapa jenis jamur penyebab penyakit tanaman, pertumbuhannya sangat cepat dan tidak menjadi penyakit untuk tanaman tingkat tinggi. Mekanisme antagonis yang dilakukan adalah berupa persaingan hidup, parasitisme, antibiosis dan lisis.
  2. Jamur rhizosfer membantu pertumbuhan tanaman melalui berbagai mekanisme seperti peningkatan penyerapan nutrisi, sebagai control biologi terhadap serangan patogen, dan juga menghasilkan hormon pertumbuhan bagi tanaman.

Data diolah oleh Shinta Oktaviana

Tinggalin jejak dengan ngisi komentar ya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: