Tinggalkan komentar

Penyakit Antraknosa (Colletotrichum gloeosporioides (Penz.) Sacc.) pada Pembibitan tanaman Kakao (Theobroma cacao L.)


Foto: Ditjenbun

Penyebab penyakit antarknosa pada pembibitan tanaman kakao adalah jamur Colletorichum gleosporioides (Penz.) Ssaac. Jamur Colletorichum gleosporioides (Penz.) Ssaac. Memiliki klasifikasi sebagai berikut :

Kingdom              : Fungi

Divisio                  : Mycota

Sub Divisio          : Deuteromycotina

Kelas                    : Deuteromycetes

Ordo                     : Melanconiales

Famili                   : Melanconiaceae

Genus                   : Colletotrichum

Spesies                 : Colletorichum gleosporioides (Penz.) Ssaac.

Jamur Colletotrichum gleosporioides merupakan salah satu jamur yang menyebapkan penyakit pada beberapa tanaman inang, baik pada fase pembibitan, budidaya dan pada fase pasca panen.

Colletorichum gleosporioides (Penz.) Ssaac. Mempunyai miselium yang jumlahnya agak banyak, hifa bersepta tipis, mula – mula terang kemudian gelap. Konidiofor pendek, tidak bercabang, tidak bersepta dengan ukuran 7-8 x 3-4 µm. Colletorichum gleosporioides (Penz.) Ssaac. Khususnya pada daun mudayang agak dewasa menghasilkan konidium jamur yang berwarna merah jambu. Massa konidia yang berwarna merah jambu ini akhirnya menjadi cokelat gelap. Colletorichum gleosporioides (Penz.) Ssaac. Umumnya memiliki konnidia hialin, bersel satu, berukuran 9-24 x 3-6 µm, tidak bersekat, jorong memanjang, terbentuk pada ujung konidiofor yang sederhana. Pada saat berkecambah konidium yang bersel satu tadi membentuk sekat. Pembuluh kecambah membentuk apresorium sebelum mengadakan infeksi. Diantara konidiofor biasanya terdapat rambut – rambut (seta) yang kaku dan berwarna coklat tua. Jamur Colleotricum menghasilkan konidia dalam jumlah banyak. Konidia terbentuk pada permukaan bercak pada daun terinfeksi, dan konidia tersebut mudah lepas bila ditiup angin atau bila terkena percikan air hujan. Konidia sangat ringan dan dapat menyebar serta terbawa angin sampai ratusan kilometer sehingga penyakit mampu tersebar luas dalam waktu yang singkat. Konidia mungkin juga deisebarkan oleh serangga. Di Sumatera Utara diduga bahwa infeksi pada semai kakao di pembibitan berasal dari kebun karet yang ada di dekatnya yang sedang terserang penyakit gugur daun Colletorichum.

Gejala

Dalam cuaca yang lembap dengan massa spora yang lunak menyebapkan spora mudah tersebar hinggga jarak yang sangat jauh dengan bantuan angin dan aliran air, diketahui pada daerah perkebunan karet di dataran tinggi atau daerah perkebunan yang memiliki tingkat curah hujan yang tinggi dan memiliki tingkat kelembapan yang tinggi merupakan kondisi lingkunyan yang sangat disukai oleh jamur C. gloeoeosporioides sehingga serangan yang ditimbulkan oleh jamur ini meningkat tajam, selain itu jarak tanam yang terlalu rapat, daerah perkebunan yang terletak di lembah, di rawa-rawa atau daerah yang populasi gulmanya tidak dikendalikan termasuk lingkungan yang disenangi oleh jamur C. gloeoeosporioides

Gejala serangan ditandai dengan terjadinya bintik – bintik nekrosis berwarna coklat. Setelah daun berkembang maka bintik nekrosis tersebut berkembang menjadi bercak berlubang dengan ‘halo’ berwarna kuning disekeliling jaringan yang sakit, dan terjadinya jaringan yang mati yang melekuk (antarknos). Pada daun yang terserang berat, akan mengalami kerontokan atau gugur sehingga bibit akan menjadi gundul.

Faktor yang Mempengaruhi

Spora tumbuh paling baik pada suhu 25 – 28 ̊ C, sedang dibawah 5 ̊ C dan diatas 4 ̊ C tidak dapat berkecambah. Pada kondisi yang lembab, bercak- bercak pada daun akan menghasilkan kumpulan konidia yang berwarna putih. Faktor lingkungan yang kurang menguntungkan seperti peneduh yang kurang, kesuburan tanah yang rendah, atau cabang yang menjadi lemah karena adanya kanker batang. Jamur juga dapat mengadakan infeksi melalui bekas tusukan atau gigitan serangga.

  • Kesuburan tanah rendah.
  • Kanker batang.
  • Infeksi pada tubuh tanaman.

Cara Penularan

Pada umumnya C. gloeoeosporioides merupan jamur yang umum dan terdapat diberbagai macam tanaman sehingga sumber infeksi jamur ini dapat terjadi dengan mudah, jamur disebarkan oleh spora (konidium), dan mudah tersebar oleh percikan air hujan dan oleh aliran udara yang lembap serta dapatdisebarkan oleh serangga vektor.

Colletorichum gleosporioides (Penz.) Ssaac. Umumnya menyerang daun muda. Daun – daun muda hanya rentan selama ± 5 hari pada waktu kuncup membuka dan selama 10 hari yang pertama pada waktu daun berkembang. Setelah itu daun sudah membuka penuh, warnanya sudah berubah dari warna perunggu menjadi pucat. Pada waktu ini kutikula sudah terbentuk dan daun menjadi cukup tahan. Jika infeksi terjadi pada awal bagian dari masa 15 hari tersebut maka daun akan segera layu dan rontok. Tetapi jika infeksi terjadi pada tingkat yang lebih, kemudian daun sudah mempunyai ketahanan dalam mencegah terjadinya kerusakan yang meluas, sehingga meskipun sebagian daun berubah bentuk dan sangat banyak bercak – bercak daun – daun tidak akan gugur.

Daur hidup pada buah masuk ke dalam ruang biji dan menginfeksi biji. Kelak jamur menginfeksi semai yang tumbuh dari biji buah yang sakit. Jamur menyerang daun dan batang, kelak dapat menginfeksi buah – buah. Jamur hanya sedikit sekali mengganggu tanaman yang sedang tumbuh, tetapi memakai tanaman ini untuk bertahan sampai terbentuknya buah hijau. Selain itu jamur dapat mempertahankan diri dalam sisa – sisa tanaman sakit. Seterusnya konidium disebarkan oleh angin. Aservulus dangkal, seta bersekat 1–2. Konidium hialin, berbentuk bulat telur dengan kedua ujungnya agak runcing.

Umumnya, spora cendawan patek disebarkan oleh angin. Bisa juga melalui peralatan pertanian, bahkan manusia. Cendawan dapat menginfeksi biji dan bertahan dalam sisa-sisa tanaman sakit.

Cara Pengendalian

Cara Pengendalian jamur ini antara lain :

  1. Menanam klon yang tahan terhadap penyakit.
  2. Memperbaiki keadaan tanaman, antara lain dengan menambah pupuk dan mengatur naungan.
  3. Untuk mengurangi sumber infeksi, ranting – ranting dan buah yang sakit dipotong dan dikubur di dalam tanah.
  4. Penambahan bahan organik untuk meningkatkan kesuburan tanah dan kesehatan tanaman.
  5. Penggunaan fungisida.
  6. Pemberian pupuk organik cair.
  7. Memperbaiki saluran pembuangan air dan drainase, memberantas gulma secara intensuf, dan pemangkasan cabang dan ranting tanaman yang tidak berguna dan yang ducurigai atau telah terinfeksi penyakit, serta mengatur jarak tanam agar mengurang kelembapan pada daerah perkebunan.
  8. Menggunakan Bioagensia pengendali hayati yaitu bakteri antagonis dalam menelan populasi jamur C. gloeoeosporioides.

Data diolah oleh Dinar Novellia Aisyah

Tinggalin jejak dengan ngisi komentar ya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: