Tinggalkan komentar

Epidemi Penyakit Tumor pada Sengon (Paraserianthes falcatria)


Foto: Budiman/Photobucket

 Tanaman sengon dikenal dengan nama ilmiah Paraserianthes falcatria (L). Nielsen termasuk dalam famili Fabaceae dan memiliki nama kesamaan Adenanthera falcata (L). Pohon sengon dikenal dengan nama umum dalam bahasa inggris albizia, batai, Indonesian albizia, moluca, paraserianthes, peacock plume, white albizia, dalam bahasa indonesia dan jawa: jeungjing, sikat.

Sengon berasal dari wilayah Haiti, Indonesia (Maluku), Papua New Gunie, dan kepulauan salomon, dan saat ini telah menyebar ke daerah-daerah baru seperti Brunei, Kamboja, Kamerun, Kepulauan Cook, Fiji, Perancis, Jepang, Laos, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam. Sengon tergolong jenis tanaman pohon y,ang pertumbuhannya paling cepat di dunia dan pohon ini telah masuk kedalam buku Guinnes Book of Records, pohon yang pertumbuhannya tercepat di dunia, sehingga disebut pula sebagai ‘pohon ajaib’ atau ‘miracle tree’. Pada kondisi yang bagus tanman sengon dapat mencapai tinggi 7m dalam waktu satu tahun.

PENYAKIT TUMOR (KARAT PURU)

Penyakit tumor, merupakan salah satu penyakit yang berbahaya pada tanaman sengon Falcataria Moluccana saat ini di Indonesia. Penyakit ini bisa menghambat pertumbuhan sampai mematikan tanaman. Penyakit tumor yang terdapat pada tanaman sengon, tampak bahwa serangan penyebab penyakit ini bisa terjadi baik pada tanaman muda di pembibitan maupun di lapangan serta tanaman tua. Adanya epidemi penyakit tumor pada tanaman sengon di Pulau Jawa, merupakan ancaman yang dapat mengakibatkan penurunan produk kayu sengon besar-besaran pada tahun mendatang.

Penyakit  karat tumor /karat puru (gall rust), merupakan salah satu penyakit yang berbahaya pada tanaman sengon laut Paraserianthes falcataria (Miq. Barneby &J.W. Grimes). Dampak penyakit meluas pada semai  sampai  tanaman  dewasa, mulai dari menghambat pertumbuhan sampai mematikan tanaman. Pulau Jawa merupakan salah satu pusat penghasil kayu sengon terbesar di Indonesia. Epidemik penyakit karat tumor/karat puru bias terjadi pada tanaman sengon secara besar-besaran pada tahun mendatang. Hal ini tentu saja akan berpengaruh kuat pada peta pengusahaan tanaman sengon di Jawa serta prospek pengembangan produk berbasis kayu sengon. Oleh karena itu perlu dipikirkan langkah-langkah  terbaik untuk mengendalikan penyakit tersebut.

Adapun langkah-langkah konkrit hanya bisa diambil apabila kita telah mempunyai dasar-dasar pengetahuan tentang penyakit karat tumor/karat puru meliputi:

  1.  Penyebab penyakit karat tumor/karat puru, perilaku, serta cara penyebaran maupun siklus    hidupnya.
  2. Gejala dan akibat yang ditimbulkan.
  3. Faktor lingkungan maupun faktor dalam tanaman itu sendiri yang mendukung atau menghambat terjadinya penyakit

Mengingat keberadaan penyakit karat tumor/karat puru terutama di daerah Kabupaten Sleman sudah mencapai tingkat epidemi, maka perlu dilaksanakan penanggulangan secara serius.  Kerjasama aktif antara pemerintah, masyarakat, LSM, peneliti dan pengusaha serta unsur-unsur terkait lainnya sangat diperlukan untuk mendapatkan solusi/hasil yang terbaik

KLASIFIKASI PARASERIANTHES FALCATRIA

Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Rosidae
Ordo: Fabales
Famili: Mimosaceae
Genus: Paraserianthes
Spesies: Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen

PENYEBAB DAN PENYEBARANNYA

Penyebab penyakit karat tumor/karat puru pada tanaman sengon laut telah diidentifikasi sebagai jamur karat (Uromycladium tepperianum (Sace.)McAlp.). Jamur karat ini hanya memerlukan 1 inang saja yaitu tanaman sengon laut untuk menyelesaikan seluruh siklus hidupnya. Jamur hanya membentuk satu macam spora yang dinamakan teliospora saja. Secara spesifik, teliospora mempunyai struktur yang berjalur, bergerigi dan setiap satu tangka terdiri dari 3 teliospora. Ukuran spora berkisar antara lebar 14-20 um dan panjang 17-28 um (Rahayu dan Lee, 2007 dalam Jumali).

Tiliospora mudah diterbangkan oleh angin dari satu tempat ke tempat lain ataupun dari tanaman sengon satu ke tanaman sengon yang lain. Apabila telah mendapatkan tempat sesuai terutama pada bagian tanaman yang masih muda, dan kondisi lingkungannya menguntungkan, teliospora akan berkecambah membentuk basidiospora. Basidiospora ini dapat  secara langsung melakukan penetrasi, menembus lapisan epidermis membentuk hypha didalam atau diantara sel-sel epidemis, xylem dan phloem (Rahayu, 2007 dalam Jumali).

Infeksi dapat terjadi  pada biji, semai maupun tanaman dewasa tanaman dilapangan. Semua bagian tanaman meliputi pucuk, cabang, ranting, daun, batang, bunga dan biji dapat terinfeksi oleh jamur tersebut (Franje,  1993 ; Braza, 1997 ;  Rahayu dkk, 2005 dalam Jumali). Pada semai, batang merupakan bagian tanaman yang paling rentan terhadap serangan jamur karat tumor/karat puru (Rahayu dkk,2006 dalam Jumali).

GEJALA SERANGAN

Serangan karat tumor/karat puru  ditandai dengan terjadinya pembengkakan (gall) pada ranting/cabang, pucuk-pucuk ranting, tangkai daun dan helai daun. Gall ini merupakan tubuh buah dari jamur.  Penyakit karat tumor/karat puru dapat menjadi persoalan yang serius dalam pengelolaan tanaman sengon. Penyebaran penyakit ini sangat cepat, dengan menyerang tanaman sengon mulai dari persemaian sampai lapangan dan pada semua tingkatan umur. Kerusakan serius bila serangan terjadi pada tanaman muda (umu r1-2 tahun), karena titik-titik serangan (gall) bisa terjadi di batang pokok/utama sehingga batang pokok/utama rusak/cacat, tidak dapat menghasilkan pohon yang berkualitas yang tinggi.

Penyebab penyakit karat tumor/karat puru yang menyerang tanaman sengon  adalah jamur Uromycladium tepperianum. Jamur ini dikenal sebagai jamur karat yang menyerang lebih dari seratus spesies Acaccia, jenis-jenis Paraserianthes/Albizia spp, Racosperma spp. (ketiganya merupakan anggota famili Fabaceae  ( =Leguminosae ) menyebabkan pembentukan (gall) yang menyolok pada dedaunan dan ranting pohon. Setiap gall karat tumor/karat puru dapat melepaskan ratusan sampai ribuan spora yang dapat menularkan ke pohon-pohon sekitarnya dengan cepat melalui bantuan angin. Ukuran, bentuk , dan warna gall bervariasi tergantung bagian tanaman yang terserang dan umur gall. Warna gall pada awalnya hijau kemudian berubah menjadi coklat. Warna coklat indikasi bahwa spora-spora yang melimpah siap dilepaskan/terbang.

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN

Pencegahan

  1. Untuk serangan karat tumor/karat puru di persemaian: yang menunjukkan gejala-gejala serangan harus segera dicabut dan dimusnahkan/dibakar
  2. Untuk pencegahan perluasan karat tumor/karat puru: adanya pengawasan yang ketat terhadap transportasi benih, bibit dan kayu tebangan dari daerah yang telah terserang penyakit karat tumor/karat puru ke daerah yang belum terserang.
  3. Pemeliharaan tanaman dengan pemberian pupuk dan penjarangan tanaman

 Pengendalian

Upaya pengendalian tanaman yang telah terserang penyakit karat tumor/karat puru adalah menghilangkan gall dan bagian tanaman yang terserang sedini mungkin, sebelum gall membesar dan berwarna coklat. Langkah yang dilaksanakan dengan mematikan sel-sel penyakit karat tumor/karat puru di bagian yang terserang agar tidak tumbuh gall lagi, caranya  adalah sebagai berikut :

Cara Kemis/kimiawi : spirtus, larutan/bubur garam, larutan/bubur belerang

a1.  Spritus : Bagian tanaman yang terserang  dibersihkan dengan cara mengelupas gall tersebut   dari batang/cabang/pucuk. Selanjutnya bagian tersebut dismprot/dioles dengan spirtus.

a2.  Larutan/bubur garam : 5 kg kapur + 0,5 kg garam  + air 5-10 liter diaduk-aduk sampai rata. Bagian tanaman yang terserang dibersihkan dari gallnya, kemudian disemprot/dioles dengan larutan/ bubur garam.

a3.  Larutan/bubur belerang : 1 kg kapur + 1 kg belerang + air 10-20 liter  diaduk-aduk sampai     rata. Bagian tanaman yang terserang dibersihkan dari gallnya, kemudian bagian tersebut disemprot/dioles larutan /bubur belerang.

Cara mekanik : memotong pucuk, cabang ranting yang ditumbuhi  gall.

b1.  Pucuk, cabang ranting yang ditumbuhi gall dipotong dan dikumpulkan, kemudian   disemprot/disiram dengan sprirtus atau larutan/bubur garam atau larutan/bubur belerang.

b2.  Pucuk, cabang ranting  yang ditumbuhi gall dipotong dikumpulkan, kemudian dibakar atau dipendang dalam tanah.

Catatan :  jangan sekali-kali memotong pucuk, cabang, ranting yang ditumbuhi gall  dibuang disembarang tempat, karena akan menyebarkan spora penyakit karat tumor/karat puru lagi

Cara rotasi tanaman:

c1. Menghindari penanaman sengon untuk sementara, terutama di dataran tinggi yang  berkabut.

c2. Penggantian sengon sebagai tanaman pokok, dengan jenis-jenis FGS ( tanaman cepat tumbuh dan menghasilkan) yang potensial tidak menjadi inang jamur Uromycladium spp., yaitu jenis-jenis famili Fabaceae/Leguminosae, seperti Acacia spp, Paraserianthes/Albizia spp dan Racosperma spp.

Cara pemulian tanaman

Dicari individu-individu pohon sengon yang tahan terhadap penyakit karat tumor/karat puru, benihnya diambil dijadikan bibit, untuk penanaman selanjutnya.

  LANGKAH PENANGGULANGAN

Status penyakit karat tumor/karat puru di pulau Jawa, terutama di wilayah Kabupaten Sleman telah mencapai tingkat epidemik/serius/gawat. Secara umum berdampak negative terhadap penurunan produksi pohon sengon, industri perkayuan, ekonomi dan sosial. Oleh karenanya perlu segera ada kerja sama pemerintah, peneliti, Lembaga Swadaya Masyarakat, pengusaha, tokoh-tokoh masyarakat, masyarakat serta pihak-pihak lain yang terkait untuk menanggulangi penyakit karat tumor/karat puru pada tanaman sengon.

Mengatasi penyakit tumor tampaknya cukup sulit, beberapa saran untuk mengurangi tingkat serangan antara lain :

  1. Pembatasan penyebaran penyakit : yaitu dengan membatasi bahan tanaman atau produk tanaman sengon yang masuk keluar lokasi yang telah terserang.
  2. Sanitasi gejala tumor : pekerjaan ini dimaksudkan untuk mengurangi sumber infeksi sebanyak-banyaknya sehingga spora jamur yang muncul dari tumor menjadi berkurang.
  3. Aplikasi fungisida : secara teknis aplikasi fungisida pada tanaman sengon akan banyak mengalami kesulitan, karena figur tanaman sengon yang cukup tinggi dan infeksi pada cabang bagian pucuk. Namun pada tanaman muda atau pembibitan tindakan ini mungkin akan membantu mengurangi keparahan penyakit.
  4. Pengendalian biologis : tindakan ini terutama untuk jangka panjang dan masih memerlukan kajian yang panjang.
  5. Penanaman sengon tahan penyakit : cara penanggulangan ini merupakan cara yang paling efektif, murah, dan aman bagi lingkungan namun memerlukan kajian cukup lama.

Data diolah oleh Ratna Dwi Meidita

Tinggalin jejak dengan ngisi komentar ya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: