1 Komentar

Penyakit Hawar Daun pada Padi


gambar koala
Meningkatnya jumlah penduduk berpotensi meningkatkan jumlah permintaan pangan, khususnya padi. Kebutuhan beras secara nasional di Indonesia masih terbilang besar. Berdasarkan data sensus penduduk 2010, penduduk Indonesia berjumlah 237 juta jiwa, sedangkan kebutuhan konsumsi beras per kapita adalah 139 kg per tahun. Dari data ini dapat diperoleh gambaran jumlah kebutuhan beras nasional per tahun yaitu sebesar 32,943 juta ton beras per tahun . Salah satu penyakit utama padi adalah hawar daun bakteri (HDB). Menyebabkan kehilangan hasil padi 50%. Luas penularan HDB di indonesia pada tahun 2003 mencapai 25.403 ha dan pada tahun 2004 meningkat menjadi 37.229 ha. Dalam peiode 1998-2002 rata-rata areal tanaman padi yang tertular HDB 34.128,6 ha dengan luas tanaman puso 60,4 ha (Direktorat perlindungan tanaman 2005). Dalam menangani organisme pengganggu tumbuhan (OPT), petani kita masih cenderung menggunakan pestisida dan akibat penggunaan pestisida yang berlebihan dapat menimbulkan berbagai kerugian antara lain : timbulnya resisitensi, resurgensi hama, munculnya hama sekunder serta pencemaran pada hasil produksi dan lingkungan. Sekarang ini sudah menjadi satu pengetahuan bahwa pengendalian hayati akan memainkan peranan penting dalam pertanian pada masa akan datang. Ini terutama disebabkan kekhawatiran terhadap bahaya penggunaan bahan kimia sebagai pestisida. Sejumlah mikroba telah dilaporkan dalam berbagai penelitian efektif sebagai agens pengendalian hayati hama dan penyakit tumbuhan diantaranya adalah dari genus-genus Agrobacterium, Ampelomyces, Arthrobotys, Ascocoryne, Bacilllls, Bdellovibrio, Chaetomium, Cladosporium, Coniothyrium, actylella, Endothia, Erwinia, Fusarium, Gliocladium, Hansfordia, Laetisaria, Myrothecium, Nematophthora, Penicillium, Peniophora, Phialophora, Pseudomonas, Pythium, Scytalidium, Sporidesminium, Sphaerellopsiss, Trichoderma, dan Verticillium (Hasanuddin, 2003).

 Penyebab Penyakit Hawar Daun

Penyebab penyakit hawar daun adalah bakteri Xanthomonas oryzae pv oryzae. Klasifikasi ilmiah bakteri tersebut adalah sebagai berikut.

Kingdom         : Procaryotae

Divisi               : Gracilicutes

Kelas               : Proteobacteria

Famili              : Psudomonadaceae

Genus              : Xanthomonas

Spesies : Xanthomonas Oryzae pv. oryzae

Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo) merupakan bakteri Gram negatif yang menyebabkan penyakit hawar daun bakteri (HDB) pada padi. HDB tergolong penyakit penting di banyak negara penghasil padi. Hal ini disebabkan karena HDB dapat mengurangi hasil panen dengan tingkat yang bervariasi, tergantung pada stadium pertumbuhan tanaman yang terinfeksi, tingkat kerentanan kultivar padi, dan kondisi lingkungan [1]. Kerugian yang ditimbulkan oleh HDB di wilayah tropis lebih tinggi dibandingkan di wilayah subtropik. Serangan HDB di Indonesia menyebabkan kerugian hasil panen sebesar 21-36% pada musim hujan dan sebesar 18-28% pada musim kemarau [2]. Luas penularan penyakit HDB pada tahun 2006 mencapai lebih dari 74 ribu ha, 16 ha diantaranya menyebabkan tanaman puso [3]. Karakter iklim tropis juga menyebabkan banyaknya strain patogen yang ditemukan di wilayah tropis. Di Indonesia, munculnya HDB dilaporkan pada tahun 1950 dan hingga kini telah ditemukan 12 strain Xoo dengan tingkat virulensi yang berbeda. Strain IV dan VIII diketahui mendominasi serangan HDB pada tanaman padi di Indonesia [4]. Keragaman komposisi strain Xoo juga dipengaruhi oleh stadium tumbuh tanaman padi. Dominasi kelompok strain yang ditemukan pada stadium anakan, berbunga, dan pemasakan berbeda [5]. Fenomena ketahanan tanaman dewasa, mutasi, dan karakter heterogenisitas alamiah populasi mikroorganisme diperkirakan sebagai faktor yang mempengaruhi komposisi strain dengan stadium tumbuh tanaman padi.

 Gejala Penyakit Hawar Daun

Gejala serangan penyakit hawar daun bakteri pada tanaman padi bersifat sistematis dan dapat menginfeksi tanaman pada berbagai stadium pertumbuhan. Gejala penyakit ini dapat dibedakan menjadi tiga macam,yaitu: (1). Gejala layu (kresek) pada tanaman muda atau tanaman dewasa yang peka ,(2). Gejala hawar dan (3). Gejala daun kuning pucat.

Gejala layu yang kemudian dikenal dengan nama kresek umumnya terhadap pada tanaman muda berumur 1-2 minggu setelah tanam atau tanaman dewasa yang rentan .Pada awalnya gejala terdapat pada tepi daun atau bagian daun yang luka berupa garis bercak kebasahan, bercak tersebut meluas berwarna hijau keabu-abuan , selanjutnya seluruh daun menjadi keriput dan akhirnya layu seperti tersiram air panas. Sering kali bila air irigasi tinggi, tanaman yang layu terkulai kepermukaan air dan menjadi busuk.Pada tanaman yang peka terhadap penyakit ini,gejala terus berkembang hingga seluruh permukaan daun,bahkan kadang-kadang pelepah padi sampai mengering.Pada pagi hari cuaca lembab ,eksudat bakteri sering keluar ke permukaan daun dan mudah jatuh oleh hembusan angin,gesekan angin,geekan daun atau percikan air hujan. Eksudat ini merupakan sumber penularan yang efektif.

Hawar daun bakteri (HDB) adalah salah satu penyakit yang dapat menyebabkan pertanaman padi mengalami puso. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri xanthomonas oryzae pv. oryzae yang dapat menginfeksi tanaman mulai dari pembibitan sampai panen. Ada dua macam gejala penyakit HDB. Gejala yang muncul pada saat tanaman berumur kurang dari 30 hari setelah tanam, yaitu pada persemaian atau tanaman yang baru dipindah ke lapang, disebut kresek. Gejala yang timbul pada fase anakan sampai pemasakan disebut hawar (blight). Secara spesifik tanda-tanda tanaman terserang adalah timbulnya bercak berwarna kuning sampai putih, berawal dari terbentuknya garis lebam berair pada bagian tepi daun. Bercak bisa mulai dari salah satu atau kedua tepi daun yang rusak dan berkembang hingga menutupi seluruh helaian daun. Apabila infeksi melalui akar atau pangkal batang, tanaman terlihat kering seperti terbakar.

 Cara Identifikasi Berdasarkan Fisiologi dan Molekular

Identifikasi berdasarkan karakter fisiologi pertama-tama dilakukan dengan pewarnaan Gram untuk melihat jenis dan bentuk bakteri. Tiga isolat bakteri yang diduga kuat Xoo yaitu STG21, STG42, dan STG46, selanjutnya dikarakterisasi secara fisiologi dengan menggunakan kit MicrogenTMGN-ID A + B panel. Isolat bakteri dalam media XA berusia 24 jam diambil sebanyak 7 lup kemudian dilarutkan dalam 10 mL larutan NaCl 0,85% steril. Sebanyak 20 µL di pipet ke dalam masing-masing lubang panel kit Microgen.

Minyak mineral ditambahkan kedalam lubang panel tertentu lalu diinkubasi selama 24 jam. Setelah 24 jam, kedalam lubang panel tertentu ditambahkan reagen sebanyak 20 µL. Pembacaan hasil uji dilakukan dengan mencocokkan perubahan warna pada tiap lubang panel uji terhadap color chart yang tersedia. Pengujian lainnya terhadap kemampuan hidrolisis pati, hidrolisis kasein, katalase, VP, dan uji pigmen flouresens dilakukan secara manual.

Isolasi DNA genom untuk identifikasi molekuler dilakukan dengan metode CTAB (Cetyl Trimethyl Amonium Bromide) [12]. DNA genom yang diperoleh digunakan untuk mengamplifikasi gen 16S rRNA. Gen 16S rRNA diamplifikasi menggunakan mesin Polymerase Chain Reaction (PCR) dengan primer spesifik untuk prokariot, yaitu 63f (5’-CAGGCCTAACACATGCAAGTC-3’) dan 1387r (5’-GGGCGGWGTGTACAAGGC-3’) [13]. Komposisi reaksi PCR terdiri dari enzim La Taq DNA polymerase 0,25 µL, 2X buffer GC 12,5 µL, dNTP mixture 4 µL, primer 63f 1 µL, primer 1387r 1 µL, ddH2O 2,25 µL, dan DNA genom 4 µL. Kondisi PCR yang digunakan yaitu predenaturasi (94 oC, 5 menit), denaturasi (94 oC, 1 menit), annealing (55 oC, 1 menit), Elongation (72 oC, 1 menit), dan post PCR (72 oC, 7 menit) sebanyak 25 siklus.

Pemisahan DNA produk PCR dilakukan pada mesin Elektroforesis mini-gel menggunakan agarose 1% pada tegangan listrik 70 Volt selama 45 menit. Visualisasi DNA dilakukan diatas UV transluminator menggunakan pewarna Ethidium Bromida (EtBr). DNA hasil amplifikasi disekuen untuk mengetahui urutan basa nukleotidanya menggunakan jasa PT Charoen Phokphand Indonesia, Jakarta. Urutan basa nukleotida hasil sekuen kemudian disejajarkan dengan data GeneBank menggunakan program BLASTN (basic local alignment search tool-nucleotida) dari situs NCBI (National Center for Biotechnology Information).

 Cara Penanggulangan Penyakit Hawar Daun

Pengendalian penyakit hawar daun bakteri pada tanaman padi di Indonesia selama ini lebih banyak mengandalkan penggunaan pestisida, namun akibat efek samping yang ditimbulkan maka penggunaannya mulai dikurangi, akibat residu yang ditinggalkan dapat bersifat racun dan karsinogenik. Oleh karena itu pengembangan agens biokontrol (agen hayati) sebagai komponen pengendalian penyakit hawar daun bakteri padi secara terpadu yang ramah lingkungan perlu dikembangkan dan diharapkan menjadi alternatif pengendalian yang penting dalam era pertanian yang berkelanjutan. Keuntungan biokontrol antara lain; lebih aman, tidak terakumulasi dalam rantai makanan, adanya proses reproduksi sehingga dapat mengurangi pemakaian yang berulang-ulang dan dapat digunakan secara bersama-sama dengan pengendalian yang telah ada.
Pemanfaatan mikroorganisme sebagai agen pengendalian nampaknya masih perlu dikembangkan. Pengembangan penggunaan mikroorganisme tersebut perlu dilandasi pengetahuan jenis-jenis mikroorganisme, jenis-jenis penyakit dan juga mekanisme pengendalian penyakit tanaman dengan menggunakan mikroorganisme. Pemanfaatan ini diharapkan dapat membantu pengendalian penyakit tanpa mengganggu kondisi lingkungan.
Terdapat sejumlah bakteri filosfer yang diisolasi dari daun padi yang berpotensi sebagai agen biokontrol penyakit hawar daun bakteri pada skala rumah kaca. Terdapat bakteri filosfer Pseudomonas kelompok fluorescens dan Bacillus sp yang juga diisolasi dari daun dan batang tanaman padi yang berpotensi sebagai agen biokontrol penyakit hawar daun pada padi secara in vitro.
Penyakit hawar daun bakteri secara efektif dikendalikan dengan varietas tahan; pemupukan lengkap; dan pengaturan air. Untuk daerah-daerah yang endemis penyakit hawar daun bakteri, tanam varietas tahan seperti Code dan Angke dan gunakan pupuk NPK dalam dosis yang tepat. Bila memungkinkan, hindari penggenangan yang terus-menerus, mis. 1 hari digenangi dan 3 hari dikeringkan (Suyamto, 2007).
Intensitas serangan hawar daun bakteri tidak hanya dipengaruhi oleh ketahanan varietas dan virulensi patogen, tetapi juga dipengaruhi oleh teknik bercocok tanam yang diterapkan oleh petani. Sama halnya dengan penyakit-penyakit padi lainnya, penyakit hawar daun bakteri mempunyai hubungan yang jelas dengan pemupukan, khususnya pemupukan nitrogen. Pemberian pupuk N dengan dosis anjuran penting untuk meningkatkan pertumbuhan vegetatif dan produktivitas. Sebaliknya pemupukan N dengan dosis yang tinggi akan meningkatkan kerusakan pada varietas dengan ketahanan moderat, walaupun pada varietas yang resisten dampaknya relatif kecil. Oleh karena itu, pemupukan N yang berlebihan sebaiknya dihindarkan. Selain pemupukan sesuai dosis anjuran, pergiliran varietas dan tanaman, sanitasi dan eradikasi pada tanaman yang terserang dapat dilakukan untuk mengendalikan penyakit hawar daun bakteri pada suatu daerah tertentu.
Berbagai varietas dan galur padi dengan berbagai tingkat ketahanan terhadap hawar daun bakteri telah dikembangkan. Namun kemudian diketahui varietas tahan hanya efektif terhadap strain tertentu di lokasi tertentu. Penelitian menunjukkan bahwa patogen Xanthomonas oryzae pv. Oryzae dapat membentuk strain baru yang mampu mematahkan ketahanan suatu varietas. Beberapa tahun setelah dilepas pada tahun 1970, IR20 dilaporkan rentan terhadap strain Isabela di Filipina. Sementara IR36 yang dilepas pada tahun 1979 dilaporkan rentan terhadap strain IV pada tahun 1982. Hal ini mengisyaratkan bahwa ketahanan varietas padi terhadap hawar daun bakteri tidak hanya disebabkan oleh dominasi dan distribusi strain yang berbeda di berbagai daerah, tetapi juga terkait dengan kurun waktu pengembangan varietas tersebut.

Periode ketahanan suatu varietas ditentukan oleh beberapa faktor, seperti kecepatan perubahan strain, komposisi dan dominasi strain, frekuensi penanaman, dan komposisi varietas dengan latar belakang gen berbeda yang ditanam dalam waktu dan hamparan tertentu.
Selain itu, untuk daerah-daerah yang biasa mendapat gangguan dari penyakit ini danjurkan melakukan usaha-usaha.
1 (Stable. Menanam jenis yang tahan.
2. Bibit padi yang dipindah tidak dipotong ujung daunnya.
3. Memindah bibit pada umur yang tidak kurang dari 40 hari. Untuk jenis-jenis yang lebih rentan umur lebih baik ditambah.
4. Untuk jenis-jenis yang rentan dianjurkan menanam 4-5 bibit tiap rumpun, dengan harapan kelak tidak ada tempat-tempat yang kosong.
5. Pemupukan yang seimbang.
6. Tidak mengairi persemaian terlalu dalam.
7. Jika diperlukan, penyakit dapat dicegah dengan merendam bibit yang dipotong daunnya ke dalam larutan terusi 0.05% selama 30 menit. Tanaman dapat disemprot bakterisida fenazin-5 oksida x 10 WP) dengan dosis 0.1 kg/ha bahan aktif.

One comment on “Penyakit Hawar Daun pada Padi

Tinggalin jejak dengan ngisi komentar ya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: