Tinggalkan komentar

Anak Laut Coba Jadi Anak Gunung


alternate titles
Selamat Pagi Bromo
Touring to Mount Bromo

IMG_3882

Salam Selaput dari Laut

Kamis, tepatnya tanggal 15 Januari 2014 pukul 23.(lewat) adalah awal bagi anak pesisir-Maulz memulai perjalanan ke gunung mengalahi rekor sebelumnya 2.045 mdpl kini menjadi 2.392 mdpl yaitu Gunung Bromo (sebelumnya Bukit Panderman). Bagi banyak pendaki, “Bromo belumlah seberapa”. Tidak sependapat dengan Maulz. Terbiasa di tempat yang panasnya terik, ketinggian dan dinginnya gunung tentulah memberikan sensasi yang berbeda bahkan hanya sekedar ketinggian dan dinginnya Gunung Bromo.

Perjalanan dari Malang ke Bromo melewati Lawang membutuhkan waktu sekitar tiga jam termasuk nungguin temen-temen yang lain dan belanja keperluan di swalayan. Persiapan seperti memakai baju, jaket dan celana rangkap serta kaus kaki, sarung tangan dan tutup kepala adalah persiapan awal dan wajib bagi Maulz yang masih newbie dalam urusan dinginnya gunung. Jalan yang kecil dan minim penerangan menjadi kesulitan utama perjalanan kami malam itu, ditambah lagi dengan jalan yang menanjak serta rambu-rambu yang kurang memadai membuat kami harus ekstra hati-hati. Belum lagi dinginnya udara yang mana semakin tinggi semakin dingin terasa membuat konsentrasi kadang buyar mikirin sendi-sendi yang beku. Maulz cukup beruntung karena dibonceng, jadi tidak merasakaan penderitaan seperti yang nyetir. Ibarat yang dibonceng aja kedinginan banget, apalagi yang ngeboncengin.

Bagi anak laut seperti Maulz, dingin adalah hal yang pertama untuk dikomentari. Udara laut juga dingin ketika malam hari, apalagi ketika mendektai subuh. Namun, dinginnya lautan itu lebih karena hembusan angin darat yang dingin dan embun. Dinginnya gunung ini memang dingin yang rasanya beda, jika di laut bagian yang akan terasa dingin adalah bagian yang bersebtuhan langsung dengan objek dingin misalnya angin, bahkan ketika kamu memakai pakaian lengkap kamu nggak akan ngerasain dingin di badanmu. Sementara dinginnya gunung itu seolah olah sedang berada di air es, tidak perlu ada angin, jadi mau pake pelindung atau tidak, dinginnya tetep bisa nerobos masuk, bahkan ketika sedang dalam keadaan diam, seolah-olah sedang berendam dalam air dingin.

Good morning to the sun

Sunrise dari viewpoint desa Tengger sebelum ke penjakan Gunung Bromo

Pukul 2 dini hari kami sampai di checkpoint desa Tengger sambil menunggu portal buka (sekitar jam 3) sebelum naik ke viewpoint untuk melihat keindahan sunrise. Sampai di checkpoint tersebut dan membayar biaya parkir Rp. 5000,- per motor, kami dihampiri banyak pedagang yang menwarkan perlengkapan gunung seperti topi, syal, senter, dan alat-alat lainnya, terpaksa menolak karena kami memang sudah membawa semua perlengkapan tersebut. Kami menunggu sambil merebus air untuk menikmati kopi hangat dan mie instan yang kami bawa. Setelah menikmati santapan, tidak lupa mencuci peralatan dengan biaya toilet Rp. 2000,- per orang.

Setelah portal dibuka, kami memebli tiket masuk dengan harga Rp. 25.000,- per orang dan parkir Rp. 5000,- per motor dan langsung naik ke viewpoint sambil menunggu sunrise sekitar dua setengah jam bersama dengan turis lainnya. Turis yang datang tidak hanya turis lokal, turis mancanegara juga begitu antusias menunggu untuk menikmati sunrise di viewpoint Desa Tengger.

Bersama pengunjung lainnya menikmati sunrise di viewpoint Desa Tengger

Bersama pengunjung lainnya menikmati sunrise di viewpoint Desa Tengger

Setelah puas menikmati sunrise, kami pun beranjak ke penanjakan Gunung Bromo yang jaraknya tidak jauh dari viewpoint melewati “padang pasir”. Karena hari sebelumnya hujan, jadi padang pasir yang biasanya berdebu kini seolah seperti pasir pantai yang air lautnya sedang surut. Warna pasirnya abu dan hitam khas tanah Gunung Bromo dan hanya ditumbuhi rerumputan dan beberapa pohon pinus. Di tengah-tengah padang pasir sama sekali tidak ditumbuhi tanaman apapun.

Di puncak Gunung Bromo terdapat kawah yang dalam dan tidak berhenti asap balerang berhembus keluar membuat beberapa pengunjung terbatuk terutama yang tidak memakai masker. Namun, sedikit disayangkan bahwa di pinggiran lubang kawah gunung wisata tersebut banyak dijumpai sampah yang tentu saja tidak enak dipandang. Bukti bahwa pengunjung banyak yang tidak berpikir untuk bersama-sama merawat wisata alam Indonesia tersebut. Lingkungan gunung cukup terawat. Konon, gunung ini dikenal sebagai gunung suci, jadi yang Maulz tahu tiap tahun ada pesembahan ke dalam kawah ala umat Hindu.

Saat siang hari, tempat ini tidak terasa dingin seperti di pagi hari. Malah semakin siang, panasnya hampir sama seperti di dataran rendah. Jadi, jaket dan pakaian rangkap lainnya dapat dilepas sesuai selera hati. Mau dipake juga ga masalah biar kalo foto masih kelihatan sense “lagi di gunung”nya.

Setelah menikmati puncak, kami pun berkeliling di padang pasir dan iseng-iseng beatbox.

Intinya dari keseluruhan perjalanan, ke gunung ini adalah yang paling berkesan bagi Maulz. Beberapa hari sebelumnya, kami wisata ke Pantai Bajul Mati dan Goa Cina. Suasana pantai dan indahnya sunset bagi Maulz sama saja, ga sepenuhnya menikmati. Ke gunung memberikan sensasi yang beda, terutama perihal dinginnnya, pemandangan yang belum pernah Maulz lihat sebelumnya juga menambah sensasi beda itu. Terimakasih buat kawan-kawan Maulz yang bersama-sama menikmati hari terakhir sebelum liburan itu.

IMG_4086

Bersama kawan-kawan

Pemandangan salah satu sudut saat meninggalkan penanjakan Gunung Bromo

Pemandangan salah satu sudut saat meninggalkan penanjakan Gunung Bromo

Tinggalin jejak dengan ngisi komentar ya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: