Tinggalkan komentar

Penelitian, Kenjeran, dan Suramadu


IMG_3277Maulz dan rekan-rekan saat sampai di Kenjeran, Surabaya

Catatan Perjalanan

Pengalaman pertama bagi Maulz naik motor ke tempat yang lumayan jauh adalah ketika ke Surabaya dari Malang untuk melakukan penelitian tentang pertanian dataran rendah. Jarak dari Malang ke Surabaya bukanlah jarak yang sangat jauh, namun bagi Maulz dan rekan-rekan pada waktu itu termasuk trek yang lumayan. Bagaimana tidak, pertama, tidak ada satupun dari kami yang asalnya dari Jawa Timur. Maulz berasal dari Kep. Riau, dan rekan-rekan dua dari Kalimantan, satu dari Padang, dan satu lagi dari Bandung. Kedua, tidak ada satupun dari kami yang pernah melakukan perjalanan sejauh itu. Ketiga, kami tidak tahu jalan dan jalurnya.

Bermodal GPS dari Bb Maulz, kami memulai perjalanan dari UMM pukul 10 pagi melewati jalan-jalan yang diarahkan GPS. Perjalanan kami tempuh selama 4 jam termasuk istirahat dan terjebak macet karena sedang musim kampanye pas bulan april lalu. Butuh satu jam lagi untuk sampai ke desa yang dituju, yaitu Kenjeran untuk mengamati lahan pertanian sempit di sela perumahan di sana.

Banyak kendala terutama yang membuat kami menghabiskan waktu sebanyak itu. GPS itu penyelamat sekaligus pembuat masalah. Kesalahan awal dari pemakaian GPS adalah, ia menunjukkan jalur yang dilewati mobil sehingga kami sempat diarahkan ke jalan tol saat sampai di Sidoardjo.  Kami harus memutar arah cukup panjang karena ini, bermodal tanya ke penduduk sekitar membuat kesalahan GPS dapat diminimalisir. Bukan GPSnya sih, tapi penggunanya.

Screen_20140405_131813Salah satu screenshoot panduan perjalanan kami menggunakan GPS

Hasil Pengamatan

Pukul 3 sore sampai di Kenjeran. Sedih dengan kondisi lingkungan itu mungkin hal pertama yang ada di benak kami. Terutama sampah yang banyak terapung di sungai, ditambah lagi dengan warna dan bau sungai yang nggak enak. Pengamatan difokuskan pada lahan padi. Sambil mengamati parameter fisik berupa tekstur tanah, kondisi cuaca, dan pola tanam kami juga mengamati faktor biologi seperti jenis tanaman dan hama yang menyerang. Tidak lupa bertanya tentang kondisi sosial ekonomi dengan penduduk sekitar.

IMG_3228Mengumpulkan data mengenai kondisi alam, ekonomi, dan sosial penduduk kenjeran dengan tanya jawab kepada petani yang sedang bekerja saat itu

Hasil yang kami dapatkan yaitu pola tanam di dataran rendah rata-rata menggunakan sistem pola tanam tumpang gilir. Tanaman unggulan pada dataran rendah yaitu sayuran seperti selada, caisim (sawi), kangkung cabut, bayam cabut, kemangi, dan kenikir. Buah buahan seperti semangka, melon, mentimun, dan pepaya. Padi dan jagung juga bisa tumbuh subur di dataran rendah, namun hanya pada varieas tertentu saja. Kembang kol, seledri, daun bawang, wortel, dan kentang adalah tanaman yang tidak bisa tubuh maksimal di dataran rendah

Di dataran rendah, air yang mengalir dari sungai tidak sederas di dataran tinggi. Hal ini disebabkan kemiringan di dataran rendah tidak memadai. Oleh karena itu, sistem pengairan di dataran rendah biasanya menggunakan sistem irigrasi pompa air dan irigrasi manual (tradisional) menggunakan ember. Sistem pengairan pompa air menggunakan pompa air sebagai sumber utama dalam pengairan lahan pertaniannya. Pengairan dengan cara seperti ini biasanya terus dilakukan walaupun sedang dalam masa musim kemarau. Perairan dengan pompa air ini biasanya dilakukan jika ada sumber air yang dalam yaitu sumur sehingga dapat digunakan oleh para petani kita dengan cara mengambil airnya dengan menggunakan ember.

Permasalahan utama yang ada di Surabaya tentang pertanian adalah Kesulitan air membuat petani harus menggunakan mesin diesel untuk mengairi lahan pertaniannya. Lingkungan yang tercemar membuat praktek pertanian di Surabaya kurang efektif. Populasi penduduk di Surabaya yang banyak dan pembangunan non-pertanian yang menjamur membuat sektor pertanian seperti terabaikan. Terbukti hanya di beberapa tempat saja seperti di daerah Kenjeran usaha pertanian masih dilakukan.

Perjalanan Berlanjut

Usai melakukan pengamatan, kami melanjutkan perjalanan yang sebenarnya hanya sekedar rekreasi. Menelusuri pesisir pantai kenjeran, juga melewati pemukiman penduduk pesisir. Menikmati dan membeli ikan asap dan ikan asin lalu. Lanjutnya kami sampai di jembatan Suramadu, sepakat akhirnya kami melewati jembatan itu dan sampai di Madura untuk pertama kalinya lalu langsung pulang kembali ke Surabaya. Istirahat dan shalat, kamipun melanjutkan perjalanan pulang ke Malang tanpa modal GPS lagi. Petunjuk di jalan lebih membantu.

Tinggalin jejak dengan ngisi komentar ya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: