Tinggalkan komentar

Kebutuhan Pangan Hewani, Buka Peluang Bisnis Menjanjikan


DSC_0847Transaksi: Penjual daging ayam sedang malakukan transaksi jual beli kepada pembeli. Produk peternakan masih banyak diminati konsumen. Oleh karena itu, usaha di bidang ini merupakan prospek yang bagus untuk digeluti. -foto: Maulyadi

Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, populasi penduduk Indonesia tahun 2014 adalah 253,60 juta jiwa dan diperkirakan akan terus meningkat hingga mencapai 400 juta jiwa di tahun 2035. Dengan kondisi tersebut, tentunya ada potensi pasar yang luar biasa khususnya dalam hal pemenuhan kebutuhan pangan salah satunya pangan hewani (daging, susu, dan telur) asal peternakan. Lalu, peluang bisnis apa yang dapat dimanfaatkan dari kondisi tersebut? Berikut penelusuran Tim Laporan Utama (Laput) Bestari.

Malang Raya Berpotensi Menjadi Pemasok Daging Terbesar Jatim

Victor Sembiring, Kepala Bidang (Kabid) Agribisnis Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Malang mengklaim Malang sangat berpotensi menjadi salah satu pemasok daging terbesar di Jawa Timur. Saat ini Malang bahkan telah berhasil menjangkau pasar ternak hingga ke daerah Jawa Barat dan Jakarta. Jenis peternakan unggulan yang ada di Malang antara lain sapi, perah, sapi potong, kambing etawa, kelinci, ayam pedaging dan ayam petelur. Terhitung hingga tahun 2013, pihaknya mencatat jumlah populasi sapi potong sebanyak 189.145 ekor, sapi perah sebanyak 72.217 ekor, kambing etawa sebanyak 225.374 ekor, kelinci sebanyak 36.256 ekor, ayam horn sebanyak 2.141.663 ekor, ayam petelur sebanyak 2.920.857 ekor, ayam pedaging sebanyak 16.045.000 ekor, serta itik sebanyak 226.000 ekor.

Untuk mendorong bisnis peternakan terus berkembang, pria yang memperoleh gelar magister dari Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya (UB) itu menjelaskan secara rutin diadakan sosialisasi pada pelaku usaha peternakan baik itu sapi potong, sapi perah, ataupun jenis hewan ternak lainnya. Selain bertujuan meningkatkan investasi, kegiatannya ini juga menjadi wadah interaksi antara pihak dinas dan pelaku usaha. Selain sosialisasi, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Malang juga memiliki beberapa program prioritas. Pertama, program inseminasi buatan khusus untuk sapi potong. Kedua, pembinaan sapi perah. Ketiga, penyebaran hewan ternak betina baik dara maupun dara bunting.

Ada pula program unggulan lainnnya yang telah dijalankan pihaknya selama lima tahun ke belakang, yaitu Inseminasi Buatan Beranak 200.000 ekor Masyarakat Sejahtera (Intan Berduri Emas). Guna menunjang keberhasilan program-program unggulan tersebut, pihaknya telah menyiapkan beberapa agenda berupa pembinaan inseminasi (penempatan sperma ternak jantan ke dalam kandung telur ternak betina dengan bantuan manusia, -pen) buatan, pembinaan dan subsidi untuk petugas inseminasi, menyediakan sarana prasaran. “Inseminasi buatan dijadikan program unggulan karena prosesnyanya yang cepat dan menghasilkan hewan ternak dengan kualitas serta pertumbuhan yang sangat baik,” terang alumni Strata-1 (S-1) Program Studi (Prodi) Produksi Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB) itu.

Belum Swasembada Daging, Peluang Bisnis Masih Terbuka

Dosen Program Studi (Prodi) Peternakan UMM Sutawi menilai kesadaran masyarakat Indonesia akan pentingnya gizi masih rendah. Tingkat onsumsi daging dan susu di Indonesia sangat rendah, bahkan jika dibandingkan dengan negara tetangga Singapura, selisihnya mencapai angka 10 kali lipat. Padahal protein hewani sangat besar pengaruhnya dalam membentuk kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), kesehatan, dan kecerdasan. “Inilah jawaban kenapa kualitas SDM kita lebih rendah dari Singapura. Makanan yang kita konsumsi lebih menitik-beratkan pada pembentukan energi bukannya gizi,” ujarnya.

Tidak hanya dari sisi konsumsi, mantan Dekan FPP ini juga menyoroti kegagalan Indonesia dalam swasembada daging. Misalnya saja susu dan daging sapi yang masih tergantung pada impor dari negara lain. Kondisi tersebut, terangnya, seharusnya dapat dimanfaatkan bagi mereka yang tertarik untuk memulai bisnis ternak. Tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan pasar agar tidak tergantung impor, para pengusaha di bidang ternak juga akan ikut andil meningkatkan konsumsi protein hewani nasional dengan menawarkan harga yang lebih terjangkau dibandingkan harga daging dan susu impor.

Ia meyakinkan bahwa memulai bisnis ternak tidak sullit dan tidak memerlukan modal yang terlalu besar. Bagi peternak pemula dapat bergabung dengan kemitraan usaha ternak sehingga dapat memulai dengan modal yang relatif kecil sekaligus sebagai wadah berbagi pengalaman dengan sesama anggota kemitraan. Usaha ternak ini sendiri tidak hanya didominasi alumni Prodi Peternakan karena teknis beternak dan pemasarannya dapat dipelajari. “Banyak alumni dari Prodi lain yang berhasil dalam bisnis ini, karena yang penting adalah keberaniaan untuk memulai. Tidak perlu berpikir besar, sebaiknya merintis dari bawah,” tegas Kepala Divisi Publikasi dan Dokumentasi Jurnal Ilmiah DPPM UMM itu.

Perlu Kreativitas dalam Beternak

Menyinggung soal permodalan, salah seorang pengusaha ternak sapi perah mengakui dukungan pemerintah untuk peternak pemula sangat besar. Salah satunya adalah subsidi bunga bank untuk mereka yang ingin memulai bisnis ternak. Berbeda dengan Bunga yang ditarik dari pengusaha lain sebesar 13%, khusus peternak hanya ditarik bunga sebesar 5% dari jumlah pinjaman. Kepedulian pemerintah untuk peternak juga terlihat dari berbagai kegiatan untuk mengembangkan peternakan di Malang Raya serta pemberian pakan gratis untuk ternak.
Ali sendiri memulai bisnis ternaknya dengan modal awal sekitar tiga juta rupiah, sementara omzet per harinya adalah Rp. 1. 250.000. Alumni Prodi Peternakan UMM ini mulai tertarik dan mulai mempelajari bisnis ternak ketika mengikuti Program Sarjana Membangun untuk sarjana peternakan dan dokter hewan. Melalui program tersebut ia mempelajari berbagai hal terkait perawatan dan pemasaran daging atau pun hasil olahan ternak. “Untuk pemasaran susu sapi misalnya, saya tidak hanya memusatkannya pada koperasi susu saja melainkan juga menjualnya secara mandiri. Sementara untuk pakan sapi saya menggunakan kulit apel dan kulit singkong yang didapat dari pabrik pengolahan kripik buah sebagai alternatif guna menekan biaya operasional,” ujarnya.
Jumlah sapi perah yang kini dimiliki Ali adalah tiga puluh empat ekor termasuk beberapa anak sapi yang belum mampu menghasil susu. Sementara jangkauan pasarnya sendiri telah meliputi Malang Raya terutama Kota Batu. Usaha ternak sapi perah menurutnya memiliki banyak keuntungan krena bukan hanya susu yang bisa dimanfaatkan, namun juga daging serta kotoran sapi yang dapat diolah menjadi biogas dan pupuk.
Kerugian Harus Dijadikan Cambuk untuk Terus Bekerja

Salah seorang peternak yang prestasinya diakui secara nasional adalah Sugeng, seorang Pegawai Negeri Sipil yang juga sukses dalam bisnis ternak ikan nila. Sentra pembenihan ikan miliknya memenangkan lomba bidang perikanan tingkat nasional tahun 2003 sebagai pemenang ke tiga kelompok unit pembenihan rakyat yang diselenggarakan oleh Departemen Kelautan dan Perikanan. Berkat prestasinya tersebut, Sugeng mendapat dukungan dana dan apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Malang dan Gubernur Jawa Timur. Kini, budidaya pembenihan ikan nila milik Sugeng telah merambah pasar Jawa Timur seperti Malang Raya, Lamongan, Sidoarjo, dan Pasuruan.
Keberhasilan Sugeng bukannya tanpa hambatan, ia mengaku pernah mengalami kerugian di masa-masa awal merintis usahanya. Sugeng berprinsip setiap kegagalan harus dijadikan pelajaran dan cambuk bagi para peternak. Sugeng, pun menekankan ketelatenan dan konsistensi sebagai hal yang harus dimiliki peternak pemula. Menurutnya memang tidak ada kesulitan yang berarti dalam memelihara ikan nila, namun ketelatenan dalam perawatan kolam dan pemberian pakan setiap harinya sangat penting untuk menjamin kesehatan dan pertumbunhan ikan. “Keuntungan yang didapat dalam bisnis ini sebanding dengan keringat yang dikeluarkan. Saat ini omzet saya sudah mencapat angka 7,2 juta per bulannya,” ungkapnya.

Permintaan Konsumen Tinggi

Tidak hanya jenis ternak populer yang menjanjikan prospek bisnis, Agus Prayudi misalnya, memilih mengembangkan ternak ayam kampung walaupun peternakan unggas di Kabupaten Malang didominasi ayam broiler. Pria yang akrab disapa Yudi itu mulai mengembangkan peternakannya sejak tahun 2008. Bermula dari usaha menjual bibit anak ayam atau yang disebut Day Old Chicken (DOC), Yudi kemudian mengmbangkan peternakannya dengan menjual daging ayam kampung yang disebut karkas, induk ayam kampung, telur ayam kampung, telur ayam kampung tetas, hingga menjual mesin penetas telur. “Peluang di bisnis ini masih sangat terbuka karena permintaan pasar yang tinggi. Dalam sepekan, pengusaha ternak asal Malang tersebut bisa menghasilkan 4.000 DOC saja. Sedangkan, permintaan pasar rata-rata bisa mencapai 20.000 DOC setiap pekannya,”
Pelanggan DOC Yudi tidak hanya berasal dari daerah Jawa Timur saja, namun sudah hampir menjangkau seluruh Indonesia. Berbeda dengan ayam kampung lainnya yang baru bisa dijual dalam waktu enam hingga 12 bulan, ayam kampung yang diternak Yudi bisa hanya memerlukan waktu 60 hari saja. Keunggulan lain dari produk yang dihasilkan Yudi yaitu kuantitas yang dihasilkan oleh ayam petelur bisa mencapai 200-300 telur per tahunnya. Rahasianya adalah pakan ternak yang selalu tersedia setiap saat di kandang. Tujuannya, agar nutrisi dalam pakan yang dikonsumsi hewan ternak dapat dicerna dengan baik dan optimal. Selain itu juga dapat meminimalisasi nutrisi yang terbuang percuma karena tidak bisa diserap tubuh hewan ternak. fia/m_nyi/p_las/put/wid

DSC_0854Ramai: Suasana pasar daging Merjosari, Malang. Konsumen daging tiap hari relatif stabil dan kemungkinan naik per tahunnya sangat tinggi. Peluang baik ini memang harus jeli ditangkap oleh pelaku wirausaha.-foto: Maulyadi

Tinggalin jejak dengan ngisi komentar ya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: