1 Komentar

Tentang Salman Alfarisi


_DSC0713Taufik Kusuma menjadi pemateri dalam acara Dialog Ramadhan 1435 H.

“Salman Alfarisi adalah sahabat nabi Muhammad SAW yang setia sekaligus pejuang gigih yang dengan idenya yang cemerlang dalam ikut berperang bersama Rasulullah,” demikian disampaikan oleh Taufik Kususma dalam sela-sela acara Dialog Ramadhan 1435 H dengan tajuk “Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah dalam Kehiduan Amal Usaha dan Pengembangan Profesi” di ruang 515 GKB 1 Universitas Muhammdiyah Malang pada Sabtu yang dihadiri oleh staff karyawan dan dosen Fakultas Psikologi UMM (12/7).

Lebih lanjut, Taufik menyampaikan sedikit biografi Salman Alfarisi di sela sela penyampaiannya dalam acara Dialog Ramadhan tersebut. Maulz sedikit mengutip cerita beliau dengan dilengkapi oleh informasi yang Maulz kumpulkan dari sumber sumber lain. Berikut kisahnya :

Salman Alfarisi adalah sahabat nabi Muhammad SAW yang setia sekaligus penjuang gigih yang dengan idenya yang cemerlang dalam ikut berperang bersama Rasulullah. Salman adalah lelaki tampan, tinggi dan tegap, putih, dengan hidung yang mancung.

Salman Alfarisi adalah seorang lelaki Persia yang pada awal kelahirannya menganut agama Majusi seperti yang dianut oleh bangsanya pada masa itu. Namun, semasa hidup bersama keluarganya, ia tidak mengengetahui dunia luar karena dikurung oleh ayahnya di rumah. Ayahnya memiliki kebun yang sangat luas.

Pada suatu hari, karena urusan tertentu, ayah Salman Alfarisi meninggalkan kebun dan menitipkan Salman untuk menjaganya. Nah, dalam perjalanan menuju kebun, Salman melewati sebuah gereja Nasrani dan terkagum dengan ibadah mereka yang ia anggap jauh lebih baik dari agama yang ia anut. Sepulangnya dari kebun, Salman ditanyai ayahnya perihal kebun tersebut, namun Salman malah bertanya pada ayahnya tentang agama Nasrani, dan ayahnya menjawab “Hai, anakku! Agama Nasrani itu bukan agama yang baik. Agamamu dan agama nenek moyangmu (Majusi) lebih baik dari agama Nasrani itu!,”. Salman menyangkal, Tidak! Demi Allah! Sesungguhnya agama merekalah yang lebih baik dari agama kita,”.

Khawatir dengan pendirian anaknya, Salmanpun akhirnya dibelenggu dengan rantai. Dalam sebuah kesempatan, Salman mengirim surat kepada orang orang Nasrani, jelang beberapa hari orang orang Nasrani pun datang membebaska Salman dan membawa serta Salman melarikan diri ke Syam.

Akhirnya, setelah bertemu Uskup gereja, Salman masuk agama Nasrani dan tinggal bersama Uskup tersebut. Seiring waktu, Salman mendapati bahwa Uskup merupakan orang jahat, ia menganjurkan masyarakat bersedekah, namun sedekah tersebut dikumpulkan untuk dirinya sendiri. Salman sangat mebenci Uskup itu, dan pada kematiannya, saat akan dikuburkan, Salman berkata pada orang orang Nasrani yang hadir, “Pendeta kalian ini orang jahat. Dianjurkannya kalian bersedekah dan digembirakannya kalian dengan pahala yang akan kalian peroleh. Tapi bila kalian berikan sedekah kepadanya disimpannya saja untuk dirinya, tidak satupun yang diberikannya kepada fakir miskin,” ungkapnya. “Bagaimana bisa demikian?,” tanya mereka. Salmanpun menujukkan buktinya. Uskup tersebut tidak jadi dikuburkan, mayatnya dilempari batu lalu disalib, dan orang orang Nasrani segera mencari Uskup yang baru, dan Salman kini mengabdi pada Uskup yang baru itu.

Uskup itu sangat membenci dunia dan terlalu mencintai akhirat. Ia beribadah siang dan malam membuat Salman menyukainya, namun ketika ajalnya tiba Uskup tersebut berwasiat agar Salman menemui Uskup lain yang ada di Mosul. Ketika Uskup di Mosul ini mendekati ajalnya, Salman diwasiatkan menemui Uskup di Nasibin. Uskup ini pun akhirnya mendekati ajalnya, dan berwasiat agar Salman menemui Uskup di Amuria.

Bersama Uskup di Amuria ini, Uskup tersebut menyampaikan, “Hai, anakku! Setahuku tidak ada lagi di muka bumi ini orang yang berpegang teguh dengan agama yang murni seperti kami. Tetapi sudah hampir tiba masanya, di tanah Arab akan muncul seorang Nabi yang diutus Allah membawa agama Nabi Ibrahim. Kemudian dia akan berpindah ke negeri yang banyak pohon kurma di sana, terletak antara dua bukit berbatu hitam. Nabi itu mempunyai ciri-ciri yang jelas. Dia mahu menerima dan memakan hadiah, tetapi tidak mahu menerima dan memakan sedekah. Di antara kedua bahunya terdapat tanda kenabian. Jika engkau sanggup pergilah ke negeri itu dan temuilah dia!”

Setelah pendeta Amuria itu wafat, Salman masih tinggal di Amuria, sehingga pada suatu saat segerombolan saudagar Arab dan kabilah “Kalb” lewat di sana. Salman berkata kepada mereka, “Jika kalian mau membawaku ke negeri Arab, aku berikan kepada kalian semua sapi dan kambing-kambingku.”

Jawab mereka, “Baiklah! Kami bawa engkau ke sana.”

Maka Salman memberi kepada mereka sapi dan kambing peliharaannnya semuanya. Salman dibawanya bersama-sama mereka. Sesampainya di Wadil Qura S dalmanitipu oleh mereka. Salman dijual kepada seorang Yahudi. Maka dengan terpaksa Salmanpergi dengan Yahudi itu dan berkhidmat kepadanya sebagai hamba. Pada suatu hari anak saudara majikan Salman datang mengunjunginya, iaitu Yahudi Bani Quraizhah, lalu Salman dibelinya daripada majikannya.

Ia berpindah  ke Yastrib dengan majikan yang baru. Di sana ia melihat banyak pohon kurma seperti yang diceritakan gurunya, Uskup Amuria. Dan Salman sangat yakin ia berada di tempat yang benar.

Ketika Nabi yang baru diutus muncul. Tetapi beliau masih berada di Makkah menyeru kaumnya. Namun Salman belum mendengar apa-apa tentang kehadiran serta da’wah yang nabi sebarkan karena Salman terlalu sibuk dengan tugasnya sebagai budak.

Tidak berapa lama kemudian, Rasulullah saw. berpindah ke Yastrib.

“Biar mampus Bani Qaiah! ( kabilah Aus dan Khazraj) Demi Allah! Sekarang mereka berkumpul di Quba’ menyambut kedatangan lelaki dari Makkah yang mendakwa dirinya Nabi,” ucap majikannya saat Salman sedang berada di atas pohon kurma.

Mendengar ucapannya, Salman segera turun dari puncak ponon, lalu bertanya kepada tamu itu, “Apa tadi yang engkau katakan? Apa tadi yang engkau katakan?”. Majikan Salman marah dan memukulku seraya berkata, “Ini bukan urusanmu! Kerjakan tugasmu kembali!”

Keesokannya Salman mengambil buah kurma ssebanyak yang mampu dikumpulkannya. Lalu dibawa ke hadapan Rasulullah saw. Aku membawa sedikit sedekah, dan menurutku kalian lebih berhak menerima sedekahku ini daripada orang lain.’

Salman pun menyerahkan sedekah tersebut kepada Rasulullah, kemudian Rasulullah SAW bersabda kepada para sahabat, “Silahkan kalian makan,” sementara beliau tidak menyentuh sedekah itu dan tidak memakannya. Salman berkata, “Ini satu tanda kenabiannya,”. Salman pulang meninggalkan beliau untuk mengumpulkan sesuatu. Rasulullah sSAW pun berpindah ke Madinah. Kemudian pada suatu hari, Salman mendatangi beliau sambil berkata, “Aku memperhatikanmu tidak memakan pemberian berupa sedekah, sedangkan ini merupakan hadiah sebagai penghormatanku kepada engkau,” ungkapnya. Kemudian Rasulullah makan sebagian dari hadiah pemberian Salman dan memerintahkan para sahabat untuk memakannya, mereka pun makan hadiah Salman itu. Salmanberkata dalam hati, “Inilah tanda kenabian yang kedua,”. Selanjutnya Salman menemui Rasulullah SAW saat beliau berada di kuburan Baqi’ al-Gharqad, beliau sedang mengantarkan jenazah salah seorang sahabat, beliau mengenakan dua lembar kain, ketika itu beliau sedang duduk di antara para sahabat, Salman mengucapkan salam kepada beliau. Kemudian ia berputar memperhatikan punggung beliau, “Adakah aku akan melihat cincin yang disebutkan Si Fulan kepadaku?”, Salman penasaran.

Pada saat Rasulullah SAW melihatnya sedang memperhatikan beliau, beliau mengetahui bahwa ia sedang mencari kejelasan tentang sesuatu ciri kenabian yang disebutkan salah seorang Uskup. Kemudian beliau melepas kain selendang beliau dari punggung, Salmanpun berhasil melihat tanda cincin kenabian dan ia yakin bahwa beliau adalah seorang Nabi. Maka Salman telungkup di hadapan beliau dan memeluknya seraya menangis.

Salman menceritakan kisah hidupnya kepada Rasulullah dan sahabatnya. Kemuidan Rasulullah SAW bersabda, “Mintalah kepada majikanmu untuk bebas, wahai Salman!” Maka majikannya membebaskan Salman dengan tebusan 300 pohon kurma yang harus ia tanam untuk dan 40 uqiyah. Kemudian, dengan bantuan Rasulullah SAW dan para sahabat, akhirnya Salman berhasil memenuhi tebusan dan akhirnya menjadi hamba yang merdeka.

Setelah itu Salman turut serta bersama Rasulullah SAW dalam perang Khandaq, dan sejak itu tidak ada satu peperangan yang tidak ia ikuti.

Pada perang Khandaq terjadi pengepungan Madinah yang dipelopori oleh pasukan gabungan antara kaum kafir Quraisy makkah dan yahudi bani Nadir (al-ahzaab) pada bulan Syawal tahun 5 Hijriah atau pada tahun 627 Masehi, dan berakhir setelah 27 hari. Perang ini disebabkan oleh Orang-Orang Yahudi yang diusir lalu ditempatkan di Khaibar,sebuahwilayah di luar Kota Madinah.Hal itu membuat mereka kecewa dan marah. Mereka terdiri atas duasuku utama,yaitu Bani Nadir dan Bani Wail.

Untuk melindungi madinah dari serangan tersebut, Salman Alfarisi memberikan idenya agar membangun parit sebagai benteng sekaligus upaya pertahanan. Pasukan gabungan datang dengan kekuatan 10.000 pasukan yang siap berperang. Pasukan gabungan membuat kemah di bagian utara Madinah, karena di tempat itu adalah tempat yang paling tepat untuk melakukan perang.

Pada Pertempuran Khandaq, terjadi pengkhianatan dari kaum Yahudi Bani Qurayzhah atas kesepakatan yang telah disetujui sebelumnya untuk mempertahankan kota Madinah, tetapi bani Quraizhah mengkhianati perjanjian itu. Setelah terjadi pengepungan selama satu bulan penuh Nua’im bin Mas’ud al-Asyja’i yang telah memeluk Islam tanpa sepengetahuan pasukan gabungan dengan keahliannya memecah belah pasukan gabungan. Lalu Allah S.W.T mengirimkan angin yang memporakporandakan kemah pasukan gabungan, memecahkan periuk-periuk mereka, dan memadamkan api mereka. Hingga akhirnya pasukan gabungan kembali ke rumah mereka dengan kegagalan menaklukan kota Madinah. Setelah peperangan itu, Rasulullah dan para sahabat berangkat menuju kediaman bani quraizah untuk mengadili mereka.

Demikian kisah Salam dengan idenya dab dengan bantuan Allah SWT akhirnya madinah selamat dari kehancuran.

One comment on “Tentang Salman Alfarisi

  1. […] Edisi Ramadan memberi pengalaman berharga tersendiri. Banyak ilmu dan kajian ramadhan yang Maulz dapet selama liputan bulan Ramadan, terutama dari apa yang menjadi topik besar dalam Kajian Ramadan UMM 1435 H yang beberapanya Maulz tulis pada tulisan Kajian Ramadan dan Tentang Salman Alfarisi […]

Tinggalin jejak dengan ngisi komentar ya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: