3 Komentar

Orang Biasa Bilang, Itu Phobia


Blinv5SIIAA-KxaOke aku takut ketinggian yang dasarnya bukan lautan, dan aku mungkin akan terdiam atau pingsan tiba tiba ketika melihat darah terlalu banyak. Atau kau mungkin tidak pernah menyangka kalau aku selalu menghindar dari hujan dan petir, dan sepertinya aku sering membunuh setiap kelabang yang aku temui. Namun, siapa yang mau peduli tentang ketakutan orang lain, dan aku bisa bilang aku termasuk orang yang hebat bisa menahan takut itu, walau kadang kadang tidak berhasil, tapi lumayan lah untuk meyakinkan orang orang bahwa aku pemberani. Ya, setidaknya kau harus paham bedanya tidak memiliki rasa takut, dengan tidak memperdulikan rasa takut.

*tunggu, gambar ilustrasinya kayaknya nggak pas*

Rasa takut seperti itu sepertinya wajar, dan aku tidak sendirian. Mungkin yang paling ditakuti sebenarnya adalah kematian atau rasa sakit ketika mengalaminya. Yah, aku menulis ini bukan untuk membicarakan orang lain, dan aku memang tidak pernah suka itu, karena aku mencoba untuk tidak terlalu memikirkan kepuasan diri sendiri.

Aku juga tidak akan menjelaskan secara biogeokimia tentang itu, atau menceritakan padamu tentang asal semua rasa takutku itu. Dan kau tentu tahu, semunya terjadi pasti dengan alasan tertentu, dan tentu saja itu urusanku sendiri.

Sebenarnya, yang paling aku takuti adalah mengenal orang, atau yang lebih buruk adalah dikenal orang. Kau bisa saja tidak sadar akan hal itu, wajar karena aku hampir bisa berteman dengan siapa saja, bahkan dengan orang yang tidak aku kenal yang duduk dekat halte bus bersamaku. Tapi, maksudku di sini lebih spesifik, kita mengenal atau dikenal, tidak hanya dengan nama, atau apa jurusan kuliah yang kita ambil, dan lain lain, tapi kenal dekat, kenal bahkan tidak cukup dari cara kau berjalan, atau apa makanan yang bisa kau pesan saat makan di McDonals, tapi bahkan mengenalmu jauh hingga ke dalam yang kau mungkin belum pernah menunjukkannya pada siapapun, bahkan orang tua mu.

Namun, ini hal yang lain. Kadang, atau memang biasanya, aku menjaga jarak pada setiap orang yang aku kenal. Aku tidak mau mengenalnya lebih dalam, dan aku menghindar dari dikenalnya lebih jauh lagi. Dan aku bisa bilang, seumur umur aku mengenal banyak orang, hanya ada satu orang yang mengenalku hampir dari segala sudut, tapi dia juga tidak pernah tahu cara aku menangis, dan atau terisak hebat saat dia menaiki kapal untuk meninggalkanku selamanya, yang aku inginkan saat itu hanya membuatnya tegar, menangis di depannya tentu adalah hal yang akan memperburuk keadaan. Setelahnya, aku hampir tidak pernah mau membuka diri pada siapapun. Alasan utama, karena kepercayaan. Aku mudah percaya semua omongan orang, tapi aku sulit untuk percaya orang lain dalam menjaga omonganku. Ya begitu lah.

Setiap saat aku bercerita, aku pasti mengawalinya dengan menceritakan semua hal yang sangat menarik dalam hidupku, semisal dari mana aku berasal, bagaimana aku sekolah, atau pengelaman aku berenang dengan penyu dan dikejar hiu pasir yang sebenarnya aku tidak takut sama sekali. Sangat jarang aku menceritakan sisi buruk dari ku, atau berhasil membujuk ku untuk menceritakan sesuatu yang membutaku rapuh seketika. Ya, karena aku hanya ingin terlihat selalu kuat di mata mereka, dan tidak ingin mereka terlalu khawatir atau perhatian dengan diriku. Sebenarnya, aku sangat senang diperhatikan, oleh siapapun itu, apalagi oleh orang orang yang berusaha selalu ada di dekatku, dan membiarkanku bersandar dibahunya. Namun, semakin aku melakukannya aku malah merasa semakin takut, takut dia tau segalanya tentang ku.

Aku tidak tahau, dan aku tidak mengerti mengapa aku takut pada hal yang sebenarnya membuat aku bisa bahagia tanpa beban, dan bisa lega menikmati teh tanpa gula. Tapi, jauh di dalam sana aku takut sendirian, aku takut tidak memiliki siapa siapa, aku takut dia meninggalkanku. Ya, semakin jauh kau mengenalku, semakin jauh kau melihat perbedaan, dan semakin kuat kau akan memilih untuk berteman dengan orang lain. Mungkin saja kau akan menghindar dari berpikiran seperti itu, tapi aku tidak bisa berhenti untuk berpikir bahwa kau akan selalu berpikir seperti itu.

Yah, segalanya terjadi karena alasan, dan aku mengalaminya. Sebenarnya, sebelum itu aku melihat dan melakukannya sendiri. Dulu sekali, aku punya teman, dan kami sangat dekat, dan kau mingkin akan bilang aku tidak akan pernah punya teman lain jika tidak berhenti berteman dengannya. Yah, aku mengenalnya lebih baik dari siapapun, dan dia bisa jadi orang yang paling memperhatikanku lebih dari siapapun. Wajar, karena dari SMP aku sudah tidak tinggal satu rumah dengan orang tua, jadi teman adalah pilihan yang tidak bisa aku tolak. Walaupun aku mengenalnya, tapi aku tidak pernah ingin tahu tentang rahasia hidupnya, beberapa yang aku tahu itu berasal dari dirinya sendiri yang cukup berani mengatakannya padaku.

Pada suatu hari, entah mengapa aku hanya ingin tahu tentangnya lebih, biasanya dia yang selalu bertanya tentangku, tapi aku belum pernah bertanya tetangnya, rasa ingin tahu aku mungkin akan membuat hal hal itu menjadi seimbang. Yang aku tanyakan hari itu hanya satu pertanyaan sederhana, “apakah rahasia terbesarmu yang tidak pernah kau katakan pada siapapun?” serasa aneh rasanya jika kata rahasia itu sebenarnya untuk sesuatu hal yang kau akan simpan selalu, mengatakannya pada orang lain sama saja itu bukan rahasia lagi.

Jawabannya hanya satu kata. Namun, dia menjabarkan satu kata itu begitu panjang sampai sampai aku merasakan aku sudah duduk berhari hari hanya untuk mendengar dia bercerita. Aku hanya bisa diam, aku yang memintanya bercerita, tapi di saat yang sama, aku juga tidak bisa terima tentang hal yang dia ceritakan itu, semakin jauh dia bercerita, semakin jelas aku melihat perbedaan, dan itu membuatku mati rasa. Entah bagaimana pikiran yang tidak masuk akal menjalar dipikiranku, bagaimana ini . . . bagaimana itu . . bagaimana jika . . dan lain lain.

Dia menderita dalam cerita, tapi aku terlanjur membencinya. Dan aku tahu itu salah, sangat tahu itu salah.
Esok dan hari hari setelah itu, bagaimana bisa terjadi, aku menjauhinya, menjaga jarak, hingga begitu jauh. Ada pertempuran hebat antara keinginanku menerima, dan keinginanku untuk menghindar. Tapi aku terlalu egois untuk cepat mengerti perasaan dan pengalaman orang lain karena aku tidak mengalaminya.

Apa yang ia jawab itu bukan hal yang penting, tapi itu akan tetap jadi rahasia sampai kapanpun. Mengingatnya membuatku hanya akan merasa sedih dan menyesal, dan bejanji tidak akan pernah membenci siapapun yang mungkin bisa jadi mengalaminya. Dan memembicarakan orang yang telah pergi ke alam yang tidak akan bisa kau jangkau sekarang ini bukan hal yang baik, jika ia ada mungkin dia akan sedih, dan aku akan terus merasa bersalah seumur hidupku.

Ceritaku cukup panjang, tapi mungkin aku merasakan apa yang ia rasakan.

Dan aku selalu menjadi orang yang waspada akan orang lain yang, dan aku juga menjadi orang yang selalu takut dengan orang yang mengenalku jauh dan lebih jauh lagi, bukan berarti selamanya aku tidak akan pernah terbuka lagi, karena aku yakin aku ingin memiliki seseorang yang bisa tahu aku segalanya, dan aku mengenalnya segala hal, dan itu akan jadi hal yang paling membuatmu nyaman. Yah, orang biasa bilang itu phobia atau trauma.

3 comments on “Orang Biasa Bilang, Itu Phobia

  1. haha,, ngaak juga -_____-

  2. Hahaha phobia darah kah? Aku tidak bisa kuat untuk menahan itu efeknya isi perut rasanya pada mau keluar.😀

Tinggalin jejak dengan ngisi komentar ya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: