10 Komentar

Dari Natuna Hingga Malang Raya


nmGaris biru menggunakan kapal laut
Garis putih menggunakan kapal terbang

Garis coklat menggunakan mobil

Seharusnya ini adalah draft yang Maulz harus selesaikan satu tahun yang lalu, tapi karena alasan yang males Maulz sebutin, jadi nunda nunda terus buat nyelesaikan cerita yang insyaallah butuh satu tahun lebih untuk selesai membacanya😀.

Yah, ini hanya sebuah cerita tentang awal mula seorang budak dari ujung utara Indonesia tercampak jauh ke kota pinggiran Jawa yang bernama Malang. Kambing hitam dari semua kejadian ini adalah tidak lain dan tidak bukan adalah kuliah, murni dan serius ini adalah hasil dari persilangan antara nyasar dengan pengen kuliah di Jawa. Endingnya entar, mari kita tengok tengok bagaimana ini semua bisa terjadi.

Maulz anak yang biasa, tapi kalo ada yang mau anggep pinter mah Maulz mau mau ajah. Secara teknis, temen temen suka anggep Maulz pinter karena suka nanya dan ngomong sama guru, lain lainnya Maulz enggak tau. Dua dua nya pelajaran yang Maulz paling mahir sendiri waktu SMA itu cuma Biologi dan Bahasa Inggris, Mahir banget sih enggak, tapi karena Mauzl udah belajar duluan semua pelajarannya, jadi Maulz lebih unggul karena ada guru yang sangat berjasa bagi Maulz mengajarkan biologi bahkan biologi yang sebenarnya dikhususkan buat anak kuliahan, efeknya pas UN Maulz ngerjain soal dua pelajarn itu hampir untuk sekelas, untung mahir ya, jadi ga ketauan😀. *relaks, cuma pemanasan*

Kelas 12 selalu jadi momok bagi kami di sana, tentang kuliah dan lain lain jadi gosip hangat bagi setiap anak, yang nggak pengen kuliah pun ikut ikutan bergosip minimal topik cinta lah. Termasuk Maulz tentunya, kuliah itu termasuk hal yang sangat ingin dikerjakan segera, namun diselipkan rasa takut luar biasa. Gimana enggak, di Natuna cuma ada satu satunya sekolah tinggi, dan alasan kuat Maulz nggak mau kuliah di situ karena jurusannya, dan Maulz muga berkeinginan kuat ingin kuliah di Jawa, terutama Bandung.

Awal Mula

Kelas 11, Maulz sudah membicarakan masalah kuliah secara serius dengan dengan orang tua (sebelum2nya juga sering, tapi Maulz cuek cuek ajah, karena masih lama), keinginan awal Maulz kuliah adalah jurusan Desain Grafis/Visual karena Maulz suka berkawan dengan komputer dan seni, tapi 100% enggak dapet izin dari orang tua jadilah Maulz wajib berubah pikiran. Dan PT pertama yang Maulz sangat inginkan setelah  itu adalah UNPAD di Bandung di fakultas pertanian, orang tua sih setuju setuju ajah tapi mereka punya pilihan lain yang Maulz juga harus pertimbangkan. Oleh orang tua, sang ibu sangat ingin Maulz kuliah di kedokteran atau di sastra Inggris, awalnya Maulz iya kan tapi dengan berat hati Maulz memberanikan diri buat ngomong kalo Maulz phobia darah, dan sastra Ingrris? Maulz ga minat sama sekali. Berselang naik kelas, Maulz ditawarkan oleh ayah untuk kuliah di pertambangan atau perminyakan, secara teknis Maulz mau karena pekerjaannya di luar kantor dan gajinya itu loh yang sangat luar biasa, Maulz terima. Jadilah keputusan semetara Maulz stuck di perminyakan, dan kuliahnya di Jakarta karena waktu itu Maulz hampir mendapatkan kesempatan “disekolahkan” di sana oleh pemerintah kabupaten andai saja Maulz langsung menerimanya. Cukup lama “kuliah di perminyakan” menjadi jawaban Maulz ketika menjawab pertanyan orang orang.

Keputusan yang Acak

Perminyakan jadi jurusan yang paling populer dibicarakan saat mendekati akhir semester kelas 12, dan Maulz jadi orang yang paling “waw” saat ngomong tentang jurusan itu. Walaupun enggak semuanya pengen jurusan itu, tapi hampir semuanya punya keinginan buat kerja di perminyakan. Alasan paling logis ialah memang saat itu sedang awal awalnya pengeboran minyak dan gas di blok D alpha Natuna, jadi jika lulus di jurusan yang bisa kerja di perminyakan, kemungkinan besar akan ditarik kerja langsung di salah satu kalang minyak terbesar di Indonesia itu. Keinginan Maulz bertambah menjadi kuliah di teknik elektro, menjadi pilihan cadangan yang sangat kuat Maulz pegang. Namun, jauh dari lubuk hati Maulz masih sangat ingin kuliah di pertanian, terutama di UNPAD.

Mendekati UN, banyak sekali poster pendaftaran kuliah di tempel di Mading sekolah, dan ada beberapa PT yang langsung datang ke sekolah untuk melakukan tes tulis. Maulz mengikuti lima tes tulis dari PTS yang sama sekali Maulz enggak tau seluk beluknya. PT pertama yang Maulz terima tanda lulus tes ialah di UNIBA (Batam) dengan jurusan Teknik Lingkungan, lalu salah satu PT di solo di hari berikutnya dengan jurusan Teknik Lingkungan juga, dan esoknya datang lagi surat yang sama dari PT di Lampung dengan jurusan Teknologi Pertanian. Beberapa minggu kemudian Maulz ikut tes lagi, kali ini jurusannya agak lain, Maulz memilih S1 Keperawatan dan lulus juga kalo ga salah di Bina Husada.

Alhamdulillah, tidak satupun yang Maulz ambil. Karena sebenarnya masih terlalu dini untuk berangkat keluar Natuna untuk daftar ulang, sementara keperluan dan kesibukan di sekolah masih lumayan banyak.

“Harus Perminyakan”

Keinginan orang tua untuk Maulz agar kuliah di perminyakan luamayan kuat. Dapat kabar baik dari bibi di Balikpapan, bahwa di sana ada jurusan perminyakan yang bagus, dan Maulz harus kuliah di sana. Alasannya, di sana Maulz bisa tinggal dengan bibi, jadi soal tempat tinggal dan makanan nggak terlalu dikhawatirkan. Walalupun lumayan mahal, tapi ibu Maulz bilang nggak apa apa, uang bisa dicari.

Maulz syok. Gimana enggak, Maulz pengennya cuma kuliah di Jawa, terserah di mana, yang penting di Jawa. Balikpapan dan Kalimantan adalah sesuatu yang tidak mengenakkan bagi Maulz, entah kenapa padahal Maulz juga belum pernah ke sana. Yang jelas pokoknya Jawa.

Tapi orang tua bersikeras, walaupun enggak maksa maksa banget. Tapi bukan tipikalnya Maulz kalo nolak mentah mentah kemamuan orang tua.

SNMPTN, dan lain lain

Bulan Desember 2012, kabar tentang SNMPTN tahun ajaran itu mulai beredar. Sistemnya agak berbeda dengan tahun lalu, dimana SNMPTN tahun itu, adalah jalur undangan bagi SNMPTN tahun lalu, dan SBMPTN tahun itu, adalah SNMPTN bagi tahun lalu. Jadi, Maulz enggak mau menyia nyiakan kesempatan kuliah di PTN ini, Gratis, dan tanpa tes, cuma modal nilai UN dan nilai rapor.

Bulan Februari kabar mekanisme pendaftaran SNMPTN sampai di sekolah, dan proses prosesnya selesai dari sekolah hanya beberapa hari sebelum SNMPTN itu ditutup. Untung sekolah kami tidak terlambat.

Dengan adanya SNMPTN, Maulz meyakinkan orang tua, kalo Maulz sangat ingin kuliah di Jawa, dan “dan biarkan Maulz ikut tes dulu, jika gagal terserah ibu maunya di Balikpapan atau dimanapun terserah”.

Maulz bilang ke ayah, kalo Maulz inginnya kuliah di pertanian. Tanpa menyebut UNPAD, Maulz meminta rekomendasi ayah. Ayahpun setuju dengan ide “pertanian” ini, salah satu kawan ayah juga lulusan pertanian dari UGM. Ayah merekomendasikan IPB, atau UGM sebagai tempat yang bagus untuk jurusan itu. Sejauh itu Maulz terima saran ayah.

Kegalaluanpun dimulai. Hal yang biasa terjadi, setelah mikir tempat kuliah, mikir tentang teman. Maulz agak stress karena nggak ada satupun teman Maulz yang mau kuliah di Bogor. Rata rata sahabat karib Maulz inginnya kuliah di Jogjakarta, Maulz pengennya kuliah bareng mereka, walalupun jurusan beda, yang penting bareng mereka lah. Maulz orangnya agak sulit buat mengenal orang asing, jadi tanpa teman adalah suatu kengerian yang luar biasa bagi Maulz, namun di lain sisi Maulz nggak mau membingungkan orang tua.

Pertengahan Maret 2013, ada mahasiswa dari Malang yang bersosialisasi tentang Malang dan PT yang ada di sana. Kali ini cukup menarik darpada sosialisasi oleh mahasiswa mahasiswa sebelumnya. Ada banyak gambar dan video ditampilkan. Universitas Muhammadiyah Malang jadi pusat perhatian seluruh siswa kelas 12 pada waktu itu dengan kemegahan dan keunikan video yang ditampilkan.

Maulz tidak tau Malang, atau PTN apapun yang terkenal di sana, tapi Malang jadi kata yang lebih menarik dari pada Jogjakarta. Bandung kini Maulz relakan sepenuhnya pergi.

Melihat biayanya yang murah, Maulz pun betekad untuk mencoba daftar di UMM. Ternyata ada enam teman Maulz yang ingin daftar juga, yang semuanya cewek. Dengan jurusan yang berbeda beda yang kami pilih, masing masing kami butuh dua hari untuk mempersiapkan semua persyaratan. Biaya pendaftarannya 250 ribu, dan mengirim berkas berkasnya kami menghabiskan 65ribu rupiah dari Natuna ke Malang, tepat tujuh hari sebelum pendaftarannya di tutup dan kabar berkas itu tiba adalah 2 hari sebelum pendaftarannya di tutup. Lagi lagi, kami beruntung.

Kesan Pertama di Malang

Bulan maret (kalo nggak salah), pendaftaran SNMPTN 2103 dimulai. Maulz mencari informasi sebanyak mungkin tentang daya tampung di semua PTN yang ada di Jawa. Pilihan pertama Maulz ialah UGM dengan jurusan pertanian di pilihan 1, dan jurusan teknik elektro di pilihan 2. Beberapa sahabat Maulz masih belum daftar, karena masih bingung. Akhirnya Maulz mendapatkan informasi tentang Univ. Brawijaya Malang yang daya tampungnya paling tinggi dari PTN lainnya. Maulz mengajak salah satu sahabat Maulz, Deddy untuk daftar di Univ. Brawijaya dan dia memilih Jurusan Agroekoteknologi, dan Jurusan Perikanan. Maulzpun tanpa pikir panjang, mengubah keputusan Maulz di UGM menjadi di Univ. Brawijaya dengan jurusan Teknik Elektro, dan Agroekoteknologi. Dua sahabat Maulz lainnya tidak berminat, yang satu t=tetap di UGM, dan yang satunya lagi memilih ikut pacarnya di Pekanbaru, Riau.

Bulan Mei 2013, pengumuman lulus pendaftaran UMM diumumkan secara online. Saat itu Maulz sedang menikmati liburan, mendapatkan kabar gembira bahwa Maulz lulus pilihan satu di UMM dengan jurusan Agroteknologi, dan semua teman Maulz juga lulus. Namun, kabar kurang gembiranya bahwa Maulz harus berangkat ke Malang kurang dari satu minggu lagi untuk daftar ulang. Sementara, pengumuman SNMPTN belum diumumkan, dan Maulz juga belum dinyatakan lulus SMA. Kabar buruk lainnya datang, kalo temen teman Maulz yang juga lulus, malah nggak ikut daftar ulang.

Ibu sedikit marah karena hal ini, Maulz diam saja. Tapi ibu akhirnya merelakan Maulz pergi. *inget waktu itu jadi pengen nangis*.  Esoknya ayah langsung belikan tiket pesawat untuk Maulz (pake kapal waktunya nggak bakalan cukup), ternyata tiketnya ada dua, ibu juga ikut. Alasan kuat yang Maulz bisa pastikan ialah, ibu terlalu khawatir jika Maulz pergi sendirian, apalagi di Malang, Maulz tidak punya siapapun, dan Maulz belum pernah keluar dari Kep. Riau sebelumnya. Tanggal 16 Mei pendaftaran ulang dibuka, dan Maulz berangkat pada tanggal 18 Mei. 1 Jam dari Natuna ke Batam, lalu menunggu 2 jam di bandara, lalu terbang lagi dari Batam ke Surabaya 2.5 jam. Dan menunggu 2 jam, dan bibi yang dari Balikpapan ikut menemui Maulz dan ibu di Surabaya ke Malang. Sudah 10 tahun lebih ibu dan bibi nggak ketemu, jadi pertemuan mereka lumayan dramatis waktu itu. Lalu lanjut ke Malang dengan travel selama 3 Jam. Waktu yang dihabiskan adalah jam 7 pagi Maulz check in di bandara Natuna, jam 11 Malam sampai di Malang.

Kesan pertamanya ialah, dinginnya itu loh yang ga tahan.

Maulz ikut daftar ulang pada tanggal 20 Mei 2013. Tiga hari setelah itu ibu pun pulang, dan Maulz tinggal sendirian di Malang. Entah kenapa, Maulz cengeng banget waktu itu dan hari hari setelah itu. Siapapun yang nelpon Maulz di Natuna, Maulz pasti nangis dan merengek nggak betah sendirian.😀

Tanggal 27 Mei 2013, SNMPTN 2013 pun diumumkan, dan Maulz lolos di Universitas Brawijaya dengan jurusan Agroekoteknologi.

IMG_2145 (FILEminimizer)

UMM atau UB?

Secara kasar, Maulz sudah resmi menjadi mahasiswa UMM. Namun, lolos di PT Negeri adalah kebanggaan sendiri yang harus Maulz perjuangkan. Gimana enggak, UB kabarnya adalah Universitas yang lumayan terkenal dan bergengsi, dan guru guru banyak yang mendesak agar Maulz memilih UB, di tambah lagi Maulz adalah satu satunya siswa si SMA Maulz yang berhasil lolos di Universitas di luar region Melayu, Maulz satu satunya siswa yang lolos di PTN di Jawa. Dibanding UB, Maulz lebih memilih UMM, yah Maulz enggak tau UB sih sebelumnya, tapi Maulz sudah mengabiskan banyak waktu duluan bersama UMM dibanding UB. Awalnya, Maulz nggak berniat untuk daftar ulang, males sebenarnya, tapi Maulz enggak ingin mengecewakan orang tua, dan sekolah.

Jujur, daftar ulang di PTN itu ribetnya ya ampun luar biasa. Persyaratannya banyak banget, dan satupun dari syarat syarat itu Maulz bawa ke Malang, jadilah orang tua di sana sibuk ke sana kemari membuat dan mencari persyaratan yang di minta. Apalagi saat menentukan biaya perkuliahan, semuanya pengen diminta, mulai dari gaji orang tua, data pekerjaan, hingga rekening listrik dan rekening air. Padahal di sana kami masih memanfaatkan sungai, dan listrik pun tidak dari PLN, jadi yang begitu nggak ada. Kalo nggak lengkap, registrasinya tidak berhasil, jadilah bikin surat keterangan ini dan itu, bikin Maulz kasihan banget sama orang tua. Berbanding terbalik dengan daftar ulang di UMM yang sehari selesai, santai, rapi, dan kesannya pengen cepet cepet kuliah. Di UB, butuh waktu 5 hari untuk Maulz menyelesaikan daftar ulang, mulai dari hari pertama yang Maulz ga bisa masuk karena penuh, lalu hari kedua vervikasi rapor, dan besoknya datang lagi buat ambil rapor, besoknya datang lagi untuk tes kesehatan dan menyerahkan persyaratan lainnya, dan besoknya datang lagi  untuk ukur seragam dan almamater. Parahnya lagi, masuk ke ruang pendaftarannya Maulz harus antri berjam jam, dan kursinya tidak ditana dengan rapi. Maulz sedikit kecewa dengan mahasiswa yang menjadi panitia di sana, mereka kasar, terus apa apa yang mau disiapakan utnuk keperluan ospek dilempar lempar, dalam hati Maulz “etika nya mana???”

“Coba kalian itu yang tertib, kalian itu udah gede. Kami ini capek ngurusin kalian dari pagi sampai sekarang belum selesai selesai juga!!!” teriak salah satu panitia cewek di ruangan yang ada lapangan basketnya pas lagi ngukur baju. Pengen rasanya maulz bilang ke orang itu “kalo nggak sanggup capek, jangan sok jadi panitia, dong!!!”, tapi bodo amat ah. Pokoknya kesan 5 hari pendaftaran itu semunya jelak, bikin pilihan Maulz erat di UMM, nggak peduli soal negeri. Lagi lagi orang tua jadi alasan Maulz tetap ikutin semua proses daftar ulang itu. 5 hari belum selesai, ada beberpa pertemuan dan perbincangan rektor yang harus Maulz hadir setelah itu. Dan yang paling penting adalah pengumuan berapa biaya perkuliahan yang harus Maulz bayar tiap semesternya.

Bulan Agustus pengumuman itu keluar. Maulz syok ngeliat angkanya, Maulz mendapatkan biaya Rp. 4.500.000/semester dan untuk tahun pertama harus membayar Rp. 9.000.000. Tentang Universitas Negeri dan segala iming iming murah nya buyar seketika. Di UMM, Maulz hanya membayar Rp. 1.750.000 dan DPP RP. 4.500.000 untuk awal masuk, plus Maulz dapet beasiswa satu semester lagi, jadi semester 1 Maulz gratis.

Bisa ditebak. Maulz 100% memutuskan UMM sebagai pilihan. Tapi iseng iseng pas pengambilan almamater dan seragam lain serta KTM, Maulz ikutan dateng. “WOW” sesaknya, semuanya berantakan, jasnya dilepmar lempar, kasian yang dapet ukurannya ga sesuai. Videonya, masih ada di simpen temen Maulz yang tetep nekad di PTN padalah dia kena 11 jt😀 . . Tapi bodo amat ah, untung Maulz ga ambil dan ngehabisin uang cuma buat Universitas Negeri, yang Maulz selalu ragu melihatnya.

ubumm

Sekarang dan Seterusnya

Maulz saat ini adalah mahasiswa aktif jurusan Agroteknologi di Universitas Muhammadiyah Malang. Dan saat ini menjabat sebagai Presiden Agro A untuk periode 2014. Doakan Maulz agar cepat cepat menjadi Sarjana. Dan buat temen temen yang pengen kuliah dan bingung antara negeri atau swasta, nggak usah terlalu dipikirkan, sekarang swasta atau negeri udah ga ada bedanya. Kalo berminat, ayaok ikut Maulz di UMM, akreditasinya A, dan menjadi universitas terbaik di Jawa Timur, jadi nggak usah khawatir.

WP_20140309_11_16_23_Pro (FILEminimizer)

10 comments on “Dari Natuna Hingga Malang Raya

  1. Tulisan yang mantap.
    keep going.

    Salam anak Perminyakan Natuna.🙂

  2. loh.. kalo masuk UMM jangan lupa kontak saya ya.. cek profil🙂

  3. waaahhh makasih banget kakak atas ceritannya yang sangat menyentuh hati😀 tahun ini aku daftar jalur undangan jurusan agroteknologi (sama kyk kak Maulz) di UMM🙂 Do’ain yaa kak..🙂

  4. good luck Maul,,,semoga cepat wisuda dan cepat balik ke natuna.pulau tujuh menunggu sepak terjangmu.,,,,budak melayu budak perkase.

  5. DAFTAR KULIAH DI KAMPUS SWASTA MEMANG SEMUANYA SERBA GAMPANG (MULAI PENDAFTARAN SAMPAI SETERUSNYA)_aku pernah ngalamin sendiri soalnya. Tapi sekarang aku udah keterima di kampus negeri di Malang (Alhamdulillah). Hidup memang pilihan.

  6. waaah, dari Batam. Satu propinsi kita😀

  7. Jadinya di UMM ya? Semangat kuliahnya, sukses terus ya! Salam kenal dari bocah Batam yang nyasar di Malang ^^

Tinggalin jejak dengan ngisi komentar ya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: