2 Komentar

Dan Kampung Sendiri (selalu) Jauh Lebih Baik


Trip to Malang2 bulan sudah (walalupun belum) Maulz berada di perantauan, Malang nih. Memang sebuah waktu yang sebenarnya tidak terasa bergulir begitu cepat, sebenarnya sih nggak cepat juga tapi kebanyakan bangsa manusia pasti bilang gitu, Maulz ikutan saja biar diakui sebagai golongan manusia normal di bumi (“so kamu bukan Manusia, Maulz” tanya Maulyadi *abaikan*). Yah memang jauh jauh merantau dari Natuna (the beutiful islands) untuk menggali, menimba, serta mencari (dan lain lain) ilmu yang bermanfaat bagi Nusa dan bangsa terutama untuk kampung halaman Maulz tercinta di sana (I love you so much, Natuna), doakan saja semoga berhasil dan sukses kedepannya, aamiin.

2 bulan di malang memang bukan waktu yang singkat, dan Maulz tetap selalu berusaha untuk menerima semua perbedaan yang tiap hari menjelma seperti bunga yang indah (kadang juga seperti bunga yang tidak indah). Yah, Malang memang kota yang indah, bersih, dan jarang berpolusi apalagi banjir, ditambah lagi dengan orang orang yang ramah membuat betah siapa saja yang mutusin untuk tinggal atau berlibur ke Malang, belum lagi suhu yang sejuk membuat malang bisa menjadi pelepas dahaga (so??) bagi orang orang yang merasakan panas yang luar biasa di daerah asalnya di manapun berada.

___________________

*iklan*

Maulz dan Maulyadi mengucapkan SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA bagi orang orang yang beriman di seluruh dunia

___________________

Bagi teman teman yang ingin kuliah, tentu di Malang adalah pilihan yang tepat (banget), Lha siapa sih yang nggak kenal Universitas Brawijaya yang bisa dibiliang UGM nya Jawa Timur itu, atau Universitas Muhammadiyah Malang, universitas swasta yang sama sekali nggak kalah dengan universitas negeri terkenal lainnya, belum lagi universitas universitas lainnya yang nggak kalah hebat seperti UM, Unmer, hingga Stikes dan Stikomnya (maaf, Maulz nggak terlalu hapal). Ditambah lagi dengan biaya hidup yang bisa dibilang murah meriah dan surganya makanan enak (bagi yang berselera) dan tentunya murah (sekali). Yang pengennya kuliah sekalian liburan, banyak sekali tempat wisata yang bisa dikunjungi di Malang, dan kalimat yang tepat adalah “nggak rugi deh”, hahaha. Bener loh, tanya saja dengan orang yang berpengalaman dibidangnya. TAMAT *jangan hiraukan*

Beperperang dengan perbedaan bagi Maulz adalah bagian tersulit di kota ini. Gimana nggak coba, dari awal kedatangan, Maulz udah disambut dengan suasanan yang sejuk (baca : dingin banget) sampai sampai mau bernapas sudah seperti sesulit bernapas saat ketemu soal ujian nasional, wajar saja Maulz berasal dari kepulauan yang suasananya panas ditambah lagi dengan dikelilingi lautan luas menambah panasnya, sebenarnya sih faktor utamanya karena Maulz berasal dari bangsa kadal (jangan tanya) dimana panas merupakan energinya untuk hidup, dan I am gonna tell you, I finish with cold. Dan hari esok setelah dingin? masih banyak hap-sad story.

Laut. Satu hal yang membuat Maulz rindu luar biasa dengan kampung halaman, LAUT. Tidak ada lautan di Malang (ada sih, tapi jauh banget), dari kehidupan yang serba berhubungan dengan laut, kini Maulz betul betul meninggalkan kehidupan itu. No fresh fish often, that’s the bad thing I really have no idea, I eat fish no more. kalo pulang Maulz pengen berenang sepuasnya, mancing ikan sepuasnya, dan makan hasil laut mentah dan masak sepuasnya, ha ha ha.

Ini Malang, dan ini perbedaan. Satu hal yang bikin Maulz tetep mau bertahan di sini adalah tempat kuliahnya yang luar biasa. Di sini Maulz bisa mengenal orang orang dari seluruh Indonesia bahkan beberapa negara asing lainnya.

I LOVE YOU, MALANG

Ini malang, dan ini perbedaan. Seriously, I dislike the sweet food, because that food is not suppouse to be sweet I think, actually I have problems with sweet food.

Bulan Ramadhan pun akhirnya tiba, dan Maulz masih di Malang. Menjalankan puasa dengan suasana yang baru membuatnya terasa berat, memang jauh dari orang tua sudah terbiasa tapi berpuasa di sini adalah masalah lain. Mulai dari sahur, entah kenapa sepertinya agak kesulitan Maulz menemukan makanan untuk sahur, bukan tidak ada, dan Maulz harus bilang lagi I dislike that sweet food. Saat berbuka tiba, di sini tidak terlalu banyak menjual aneka makanan sih, tidak seperti daerah asal Maulz yang menjual berbagai macam makanan enak. Serius, ada loh beberapa tempat yg menjual makanan yg agak aneh dri bentuk dan rasanya (ya lagi lagi cuma masalah selera sih). Ya Allah. Di sini juga Maulz menemukan beberapa tidak menghormati orang berpuasa, penjual makanan berjejer di pinggiran jalan sekaligus memamerkan orang orang yang makan di siang bolong dengan lahapnya, bahkan lebih buruk lagi ada yang menjual makanan di samping masjid malah, sayangnya tidak sempat Maulz fotokan, belum lagi kalo berjalan jalan di dalam mall, hampir setiap waktu food courtnya penuh. Maulz tidak tahu mengapa hal seperti ini bisa terjadi di sini, bahkan Maulz merasa yakin, mereka juga orang orang (yang mengaku) islam, dan jika memang dari agama lain, Maulz kecewa jika mereka tidak bisa menghargai umat islam yang sedang menjalankan ibadah puasa, wajar sih sebenarnya, kan Malang juga dihuni orang orang dari berbagai bangsa, suku, dan agama dari seluruh Indonesia. astaghfirullahha’aziim

Terakhir Kata

DAN KAMPUNG SENDIRI JAUH LEBIH BAIK

2 comments on “Dan Kampung Sendiri (selalu) Jauh Lebih Baik

  1. Mohon maaf yisha klo bahasa saya terkesan menjelekkan,
    Tpi ga berniat begitu, I just shared what I feel everyday,,
    Jika bermasalah, silahkan beri masukan,

  2. aih, kaka lagi ngejelekin kampung lain ya ka? hayoooooo……. 👿

Tinggalin jejak dengan ngisi komentar ya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: