Tinggalkan komentar

ARTIKEL : MINIMNYA KETERSEDIAAN TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR SAMPAH SEKOLAH


rose SUMBER GAMBAR : putriyolanda12.blogspot.com

Berada di lingkungan yang bersih dan harum tentu menjadikan kita betah untuk melakukan aktifitas sehari hari. Apapun yang kita lakukan, kita tentusaja membutuhkan tempat yang enak untuk dipandangi, termasuk ketika sedang belajar di sekolah. Lingkungan sekolah yang bersih, indah, dan hijau, serta harum dapat membuat kita semangat mengikuti pelajaran. Tapi, bagaimana jika tumpukan tumpukan sampah terlihat di tempat yang tidak seharusnya, misalnya taman atau pekarangan sekolah?, tentu saja sekolah bukan lagi tempat yang menyenangkan bagi kita, seperti sekolah kita ini.
Penyebab utama banyaknya tumpukan sampah di pekarangan sekolah kita adalah sedikitnya tempat pembuangan akhir sampah. Tempat pembuangan akhir sampah sangat penting bagi sekolah, terlebih jika ketersediaan lahan sudah sedikit. Minimnya ketersediaan tempat pembuangan akhir di sekolah kita membuat beberapa pekarangan sekolah dijadikan tempat pembuangan sampah oleh siswa dan sisiwi yang mengerjakan piket kelas. Bagaimana tidak, tempat pembuangan akhir yang seharusnya menjadi tujuan akhir bagi piket kelas untuk membuang sampahnya terlihat selalu penuh, ditambah lagi jumlahnya yang tidak mencukupi serta ukurannya yang relatif kecil, itupun letaknya sangat jauh bagi beberapa kelas, belum lagi ditambah dengan sampah organik dan non organik yang tidak dipisahkan. Wajar saja di setiap sudut sekolah menjadi sarang sarang sampah.
Tidak hanya merusak keindahan sekolah, keberadaan tumpukan sampah tersebut juga membuat lingkungan sekitarnya menjadi berbau, terutama jika hujan dan angin kencang. Hujan membawa limbah limbah dari sampah menuju selokan selokan di dekat kelas, sementara angin menyebarkan bau bau tersebut. Dampak negatifnya tidak hanya sampai disitu, sampah sampah yang tidak terurus tentu menjadi surga bagi kuman kuman penyakit, ditambah lagi dengan lingkungan sekitarnya yang lembap, kuman kuman penyakit dapat dengan mudah berkembang biak dan menyebar, karena di sana juga berkembang biak lalat lalat yang berterbangan membawa kuman kuman tersebut. Tentu saja lingkungan sekolah yang kotor menjadi tempat yang sangat mudah bagi penyakit penyakit terutama diare, serta kolera dalam menyebar, karena memang kantin kantin sekolah juga tidak jauh dari tumpukan sampah tersebut. Sampah sampah yang dapat menampung air juga dapat menjadi sarang nyamuk yang dapat menularkan penyakit seperti malaria, demam berdarah, hingga chikungunya.
Masih untung tumpukan tumpukan sampah yang berada di pekarangan sekolah selalu dipindahkan ketika mengadakan gotong royong, tetapi yang jadi permasalahannya, tempat pembuangan akhir pasti selalu penuh dan tidak terurus. Ketika kita ingin mebakarnya, sering sekali sampah tersebut tidak bisa terbakar seluruhnya karena memang kondisi sampah banyak yang tergenang air, belum lagi asapnya sangat mengganggu karena betul betul dekat dengan beberapa kelas. Jika ingin di angkut ke luar, tempat pembuangan akhir kita justru berada di derah yang tidak bisa dilalui oleh truk pengangkut sampah. Intinya solusi masalah tempat pembuangan akhir ini harus betul betul diperhatikan, tidak hanya memperhatikan banyaknya ketersediaan, dan luasnya, tetapi lokasi yang baik juga harus diperhatikan.
Tidak hanya kita sebagai warga sekolah saja yang merasa terganggu, tetangga kita, warga sekitar, juga akan merasa tidak nyaman berada di dekat kita. Belum lagi ketika ada tamu dari luar melihat lingkungan sekolah, bagaimana nasib nama sekolah kita di luar sana?.
Memang, untuk daerah kita, tidak banyak yang bisa kita lakukan untuk menangani masalah sampah, namun dengan usaha serta doa, minimal kita harus bisa menjadikan pekarangan sekolah kita bersih, dan tempat pembuangan akhir yang cukup dan terawat, karena kebersihan itu sebagian dari iman.
Kami sangat mengharapkan kepada pihak sekolah untuk betul betul memperhatikan ketersediaan dan luas tempat pembuangan akhir sampah ini, sedapat mungkin untuk segera memperbanyak jumlahnya serta memperluas daya tampung, bila perlu sediakan pemisah untuk sampah organik dan non organik. Selain itu lokasinya juga di harapkan tidak berada di dekat ruang belajar, dan juga tidak boleh terlalu jauh dari kelas, karena hal ini akan membuat piket kelas malas untuk membuang sampah di tempat yang terlalu jauh tersebut. Jika memungkinkan, sedapat mungkin sampah sampah tersebut rutin diangkut oleh truk pengangkut sampah ke luar sekolah, tentunya jalan bagi truk tersebut harus tersedia, atau dapat dibakar di tempat, namun dibakar bukanlah anjuran.
Kepada seluruh kelas, terutama yang sedang melaksanakan piket, jika apa yang kita harapkan sudah terwujud, diharapkan kesadarannya untuk tidak lagi mengotori pekarangan sekolah yang selalu kita pandang setiap hari ini.
Endingnya, sekolah kita menjadi bersih, harum, indah, dan menjadi tempat yang dapat membuat kita betah untuk terus berada di sekolah, terutama dalam mengikuti pelajaran. Sekian!

“ARTIKEL INI SPECIAL BUAT SAHABAT MAULZ, DEDDY – NGGAK PERLU DITANYA DEH KENAPA BUAT DIA,”

Tinggalin jejak dengan ngisi komentar ya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: